2/5/10

Anjing!!!









Anjing itu terus menerus menggonggong...
Anjing itu tak sadar atau tolol???
Ketika dia menggonggong lawan atau bahkan kawannya bergerak meninggalkannya..

Dan Anjing itu terus menerus menggonggong...
Anjing itu tak sadar atau tolol???
Ketika dia menggonggong manusia bersiap mengusir bahkan menyantapnya...

Lagi..Anjing itu terus menerus menggonggong...
Anjing itu tak sadar atau tolol???
Ketika dia menggonggong...Nguik...!! Anjingpun mati!!!




-PO-
(dalamgamangdinegeriorang)
0684614911

2/2/10

It's Holland!

Yeah..It's Holland, indeed. And..it's quite amazing that finally I am in Holland to study with the scholarship from StuNed Neso Indonesia. Therefore, I will be in this 'Kumpeni' country for about 12 weeks in which I take short course of "Good Governance and The Broadcast Journalism 2010 in Hilversum, Netherlands".


It took around 14 hours to get to the Netherlands from Jakarta. Since, it was an Malaysian Air, then the plane should transit in Kuala Lumpur for about 2 hours before continue the flight to the Amsterdam.


And..It was 07.15 according to Holland time when I first stepped my foot in The Schiphol Airport of Amsterdam. By that time, it's quite to early to have a morning activities for The Amsterdamers. That's what I can remenber from the wisdom word of StuNed staff before I leaved Indonesia on the night of January 28 . However, It was not a problem, indeed, for Dennie to pick me up at the Airport and to take me to the place where me and my 31 friends of the course will stay.



Dennie, the 23 years guy who dressed formally with white shirt and red tie, took me with his Mercedes Van to the three stars of Bastion Hotel. It was located in Bussum Zuid area. Therefore, it took only less than 30 minutes to be in that suburb area. However, Bussum Zuid is only the place of living. Our place of course is in Hilversum Noord.

It's called RNTC (Radio Netherlands Training Centre)! At this place, I will have some international point of view of journalism through the upcoming 3 months.







Since the course will be started on February 1st, thus I went to Amsterdam to take a look around. Therefore, Red Light District which is the most iconic prostitution place in Holland where I visited first. I was not alone there. Ricky was accompanied me to 'hunt' some beautiful scenery in that 'aquarium'. For your information Ricky and I was a colleague in Faculty of Social and Politics Sciences at University of Indonesia in 1998.

We were both very happy at the time. It's like a dream that an old friend could met again in other country, developed on such Holland indeed. We laughed so loud. Even we sing our favorite song from Sting: "woooo..I'm an allien..I'm a legal allien, I'am an Inlander in Holland". Though it's different with the original song, we were proudly sing the parody style in our own. Gosh...it's still beyond our imagination that such thing could be happened!!!


Many places I've been visited in Amsterdam. From the public park, supermarket, and also the bus and train station. However, I still want to visit ARENA STADIUM someday. As a big fan of soccer it's a obligation for me to visit the icon of the football of the Dutch people.






*Coming up: "The story of preparing my self before start the course by attending the international church ceremony. And also the dynamic situation of the first class.."

1/26/10

Aku, Lando, dan Tujuan Hidup

"Mmhhh...STIE...eh...bukan deh..STEI...mmmh..Bukan..bukan..di plangnya seh STIEI..."

Kutipan itulah yang meluncur dari mulut Lando malam ini. Lando mengucapkannya dengan bahasa non verbal yang sangat gamang. Ada keraguan ketika aku memaknai kata demi kata saudara sepupuku ini.

Aku pun tertarik dengan kutipan itu. Tanyaku dalam hati,"Bagaimana mungkin seorang mahasiswa semester 5 tidak dapat menyebutkan secara pasti nama kampusnya sendiri??" Seketika, akupun membandingkannya dengan adik dari kekasihku yang masih berusia 7 tahun. "Aku sekolah di SDN 01 Pagi Keramat Jati, Bang...," celoteh bocah itu ketika aku tanya sekolah dimana ia sekarang beberapa waktu lalu.

"Anak kecil aja tahu...," begitu kalau kata salah seorang talent iklan sebuah produk di televisi beberapa waktu lalu. Ya..Lando bukan anak kecil lagi memang. Sehingga sangat mengherankan-bagiku terutama-jika seorang pemuda harapan bangsa yang telah mengenyam dunia perkuliahan, masih saja tidak mampu menjawab secara lugas 'status' dia sekarang.

Alih-alih, perbincanganku dengan Lando malam ini bukanlah sesuatu yang tak terduga. Ya..Semuanya memang telah terencana alias 'by design'. Ibunda dari Lando-yang notabene adalah inangtuaku-datang terlebih dahulu ke rumahku malam ini. Tujuannya satu. Ia meminta masukan dariku perihal sikap Lando yang sudah beberapa bulan belakangan memilih untuk tidak berkuliah lagi. Inangtuakupun sedih dengan tingkah polah anak bungsunya itu. "Gimana ya Ner...mana sudah ku bayar full lagi uang kuliahnya untuk 144 sks...eh..sekarang dia malah ngga mau kuliah lagi...pusing katanya. Maunya dia pindah jurusan ke broadcast..,"lirih inangtuaku di depan aku dan kedua orang tua ku malam tadi.

Akupun terenyuh dengan keluh kesah inangtuaku-yang merupakan kakak kandung dari ibuku-itu. Kontan, akupun berbincang dari hati ke hati dengan Lando soal kendala studinya tersebut. "..Aku seh pengennya ngurangin beban Mamak, Bang...,"cerita Lando manakala ku tanya apa sebenarnya yang 'mengganjal' dalam hatinya. Sebelumnya, konteks pembicaraan kami berkisar soal niatan Lando yang ingin kuliah sambil bekerja.

Tidak banyak masukan ataupun wejangan yang kuberikan kepada saudara laki-lakiku ini. Namun, setelah mendengar keinginan mulia darinya tadi, akupun memotongnya. "Nah...mau tahu ngga caranya bagaimana supaya kau bisa mengurangi beban Mamakmu? Selesaikanlah kuliahmu itu..,"kataku dengan nada agak tegas.

Sayang beribu sayang, belum sempat aku memberikan wejangan yang lainnya, malam bergerak semakin larut. "Sudah habis belum pembicaraan kalian,"teriak inangtua memotong diskusi ku dan Lando yang sedang menghangat. "Kita mau pulang nih...," lanjutnya lagi.

Alih-alih, niatanku yang tadinya ingin lebih mengarahkan tentang tujuan hidup kepada saudara sepupuku itu menjadi buyar. Sejatinya aku ingin membantu Lando dalam menemukan dan menentukan tujuan hidupnya. Bukan hanya sekadar membantu meringankan beban orang tuanya saja. Namun lebih dari itu. Lando harus punya tujuan hidup yang jelas dalam setiap langkah kehidupannya.



*Sebuah cerita yang muncul di saat satu hari menjelang keberangkatanku ke negeri orang guna menimba ilmu. Melalui kisah inipun aku diingatkan kembali akan seberapa yakin aku akan tujuan hidupku.

1/24/10

Air Mata


Dan air mata itupun menutup malamku
Sedih, haru, dan bangga jadi satu
Sedikit kata yang terucap hanya air mata yang menderai..

1/23/10

My Beautiful Day..

This day is really fantastic. I got all what I've planned. I bought three pieces of longjohn at Mangga Dua Market with a special price.

However, the more fantastic thing is that I did my day with Eva, who I love as my future wife.

Thank God for this beautiful day!

1/21/10

Kagum...

Inilah kekagumanku..

Aku kagum karena aku hidup
Aku kagum karena aku tidak tahu mengapa hingga saat ini aku masih hidup
Aku kagum karena ketidaktahuanku akan masa depanku
Aku kagum karena keterbatasanku
Aku kagum karena kelemahanku
Aku kagum karena Tuhanku
Aku kagum karena aku kagum!

1/20/10

Ajaran Ibu

Begini seruan orang bijak: "..Jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu".

Rasa-rasanya kalimat bijak itu bernada klasik dan cenderung absurd. Terang saja...itu disebabkan sejatinya kodrat seorang ibu adalah memberi nasihat alias ajaran kepada semua orang terutama anak kandungnya sendiri. Dan karena kodrat itulah ada anggapan ibu dalam suatu gaya panggilan tertentu (baca:dialek) sering dilabelkan CEREWET..

Saya pun mengamini hal itu. Seringkali ibunda memberikan beragam ajaran dalam perpektif yang berbeda dari ekspektasi saya. Dan sering kali pula saya lebih memilih jalan 'samping' dari ajaran tadi..Hasilnya???? Mencengangkan..!!! 'Kegelapan' dalam setiap jalan yang saya ambil.

Pernah suatu kali sang bunda melarang saya keluar malam untuk futsal. Tapi, saya mbalelo. Sayapun tetap bermain futsal. Diluar dugaan, malam itu saya menderita cidera lutut yang sampai sekarang masih membekas. "ah..coba gua dengar tadi nasehat Mamak gua...,"sesal saya dalam hati sesat pasca cedera.

Rabu ini, ibunda tercinta kembali memberi ajaran. "Ayo ke dokter gigi. kita periksa gigimu, biar siap kau di daerah dingin nanti,"ajar sang bunda dengan nada khas orang Batak ketika menasihatiku beberapa hari menjelang keberangkatanku untuk studi lagi di negeri Kincir Angin. Dan..berbeda dari biasanya, saya pun nurut bak kerbau dicucuk hidungnya. Tidak sedikitpun ajaran ibu itu saya sia-siakan.

"Ini ada lubang di gigi geraham kanan bawah..Sebaiknya ditambal aja ya...,"celoteh sang dokter gigi setelah mengoprek-oprek gigi saya yang sebelumnya saya rasa tidak ada masalah dengan gigi tersebut. "Waduh...karang giginya juga banyak neh...," tambah sang dokter gigi wanita berusia setengah baya tadi. "Gimana baiknya dokter aja deh..,"jawab saya dengan pasrah. Ya..saya pasrah karena saya tidak menduga akan seperti ini jadinya. Tapi sang bunda seolah punya indera ke-6, mampu membaca yang tak terkira.

Sekarang gigi saya putih bersinar. Tidak hanya itu, tidak ada lagi celah hitam di gigi geraham saya. Itu bukan suatu kebetulan. Itu adalah buah dari tidak menyia-nyiakan ajaran ibu.

Terimakasih Mamakku sayang.. Tuhan berkatimu!!!