4/30/14

Galas a.k.a Gak Jelas

Image courtesy of http://abstract-wallpaper.en.softonic.com/ 

Ini cerita penuh dimensi. Bahasa kerennya, komplikasi atau complicated-begitu kata orang Inggris. Tapi, gua sebut ini sebagai galas alias Gak Jelas!

Adalah sebuah kisah tentang seorang yang rajin beribadah. Tapi, mengucapkan salam saja-dalam setiap perjumpaan dengan orang lain-hampir tidak pernah dilakukan.


Ada lagi orang yang taat menjalani ritual keagamaan. Namun, sikap dan perbuatannya sungguh tidak mencerminkan sifat yang agamis.

Lain lagi dengan cerita manusia yang cerdas: tahu membedakan mana yang benar dan yang salah. Tapi sayang. Ketika dia salah, dia tidak sepenuhnya mengaku bersalah.

Kalau yang satu ini soal insan yang berpenampilan dan mengaku baik kepada semua orang. Akan tetapi, kebaikannya mengandung pamrih. Sebab, ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, dia murka. Bahkan merasa disakiti. Ah, bukankah kemurnian perbuatan baik itu tak kenal balas jasa?

Itulah cerita galas bin gak jelas yang gua sebut tadi. Dan, gua adalah orang pemilik cerita itu.


-PO-
01.05
010514
*dariruangkerjayangsejuksambilmenantikantayanganlangsungsepakbolapialachampions

4/15/14

Selalu Salut dengan Orang yang Berani Marah meski Salah..

Dunia ini seperti sudah terbalik-balik.

Hitam menjadi putih, dan..

Putih berubah menjadi hitam.

Rasanya, tidak ada lagi kebenaran yang hakiki.

Sebab, segalanya tergantung pada seberapa besar nyali yang Anda miliki.

Seperti sore hari tadi.

Aku melihat pengendara mobil bersitegang dengan pengendara lainnya.

Mari kita sebut pengendara pertama itu si Kumbang dan pengendara satunya dengan sebutan si Macan.

Tampak jelas aura kemarahan dari wajah si Kumbang ketika berhadapan dengan si Macan.

Terlebih, setelah sadar mobilnya memerlukan operasi plastik dengan segera.

Lontaran makian pun muntah dari mulut si Kumbang.

Kasar dan sangat berbisa.

Sadar akan ancaman terhadap dirinya, si Macam seolah bersiap.

Tapi, sayang...

Si Macan seperti tak bertaring.

Diam dan membisu.

Padahal dia punya kuasa untuk menerkam dan menelan si Kumbang, bahkan hanya dengan sekali lahapan.

Apalagi si Macan didukung oleh alam semesta, karena dia berada di jalur yang benar.

Ah, soal benar-salah ini menjadi rancu.

Karena ternyata, sekali lagi, dunia ini seperti sudah terbalik-balik.

Kalaulah ada orang bijak berkata: "Berani karena benar, takut karena salah.."

Maka, sekarang beda cerita.

Karena, kini, orang berani marah meski ia salah.

Dan, aku...

Aku selalu salut dengan orang yang berani marah meski salah!

Seorang petugas Transjakarta melerai sopir Toyota Avanza B 1680 TRG yang memaki sopir Transjakarta di halte Transjakarta, Manggarai, Jakarta pada Selasa sore (15/4/2014). Sopir Toyota Avanza tersebut marah karena mendapati mobilnya tersenggol bus Transjakarta. Padahal, tampak jelas, Toyota Avanza itulah yang nyelonong ke jalur busway secara tiba-tiba.

 
-PO-
*darikantukdanletihsertagundahhati
00:41
160414


4/7/14

Ketika Liburan Tiba..

Apa yang dirindukan kelas pekerja dalam hidupnya?

Naik gaji atau upah? Bisa jadi..

Naik pangkat atau dapat promosi? Mungkin saja..

Atau, pensiun dini untuk segera menjadi manusia independen? Boleh jadi..

Dan, sebagai pekerja (sebenarnya saya lebih suka disebut buruh, lebih membumi kedengarannya hehe), saya juga acap berpikir demikian.

Tapi, tanggal 31 Maret 2014 saya lebih merindu liburan bersama keluarga ketimbang hal lainnya.

Sudah bisa ditebak. Jadilah kami sekeluarga-saya, istri, dan putri saya Enet Le Miracle (1tahun), menikmati liburan keluarga bersama ketika seluruh umat  Hindu di Nusantara ini sedang merayakan Hari Raya Nyepi tahun Saka 1936.

Berbeda dengan liburan terakhir yang kami lalui di pulau Dewata (13-15 Desember 2013) dengan cukup mewah-karena kami menginap di hotel bintang 5 sekelas Westin, Nusa Dua, dengan segenap kemewahannya termasuk makanan internasional yang disajikan restoran Italia Prego, kali ini kami coba menikmati liburan 'murah' dengan suasana alam.

Ya, kami menghabiskan seharian penuh dengan backpacker-an ke SKI Tajur, Bogor, Jawa Barat.

Tujuannya satu. Bertamasya dengan sederhana sambil belajar akan beragam fenomena alam.

Sederhana? Tentu saja. Karena total anggaran kami 'hanya' Rp 300.000. Itu sudah termasuk ongkos pergi-pulang untuk transportasi umum seperti kereta commuter line (Pasar Minggu-Bogor) dan angkutan kota Bogor; makan siang-sore (dengan porsi 'ugal-ugalan' karena kami makan soto mie Bogor di Baranangsia dan di SKI Tajur kami melahap bakso, laksa, dan sate padang hehe); dan membeli oleh-oleh seperti talas bogor, roti 'Unyil' Bogor, dan asinan buah-sayur Bogor.

Rasanya???

DAHSYAT!!!

Liburan kami sangat menyenangkan. Dan, tentu saja sangat bermakna. Utamanya, dalam menumbuhkan rasa kebersamaan (khusus yang ini, hampir sepanjang perjalanan sekira 10 jam saya mendekap putri saya yang belum lama berulang tahun pertama di dada saya dengan bantuan 'tas kangguru' hehe).

Berkenan lebih jauh ikut merasakan indahnya kebersamaan kami? Monggo loh ditengok rekaman foto berikut ini.

Stasiun Bogor menyambut istri dan putri saya dengan cuaca yang sangat bersahabat sekira pukul 11.00. Foto diambil dengan kamera handphone BlackBerry Gemini 8250.

Sebelum meneruskan perjalanan ke SKI Tajur, Bogor kami sengaja singgah di pusat informasi turis yang letaknya sekitar 50 M dari stasiun Bogor. Kami bertanya soal angkutan kota dan tarifnya. Rasanya, kami seperti sedang berkelana di luar negeri saja hehehe..
Selamat datang di SKI Tajur, Bogor, Jawa Barat
Ini dia, bertamasya sambil belajar fenomena alam. Berkenalan dengan binatang kuda.

Wuah, ternyata tidak hanya ada kuda. Kura-kura juga bisa dijumpai dengan gratis di pusat wisata ini.

Liburan 'murah' menjadi semakin komplit dengan mencicipi miniatur pesawat terbang di arena bermain di dalam ruangan SKI Tajur.

Kini, giliran saya yang berpose di depan kamera sesaat sebelum pulang ke rumah. Kami mampir sebentar di toko bayi Baby House yang ada di Jl. Pajajaran.


Sampai jumpa di liburan berikutnya.... :)


-PO-
23:11
*dariruangkerjayangpanasditemanikoleksialbumTheVeryBest-nyaTOTO*




3/14/14

Orang (Paling) Pintar

Sejarah terjadi.

Hari ini untuk kali pertama menggunakan embel-embel tambahan nama di belakang nama lengkap.

Beruntung, bisa menggunakan gelar itu dengan positif. Sebab, ada ilmu dan pengalaman yang ditularkan.

Tapi, yah..

Setiap ada tambahan, pastilah ada beban.

Ini dia, beban menjadi orang pintar karena bergelar. Dituntut harus selalu benar.

Hmmm...

Saya (berdiri keempat dari kiri) bersama Ibu Ratna, Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian PP&PA (berdiri kedua dari kanan) beserta seluruh staf bidang humas Kementerian PP&PA dalam pelatihan penulisan naskah humas di Hotel Akmani (14/3/2014).

-PO-
00.34
150314

1/29/14

Ya Tuhan Tiap Jam

Ilustrasi buku Kidung Jemaat dikutip dari http://pusataplikasigratis.blogspot.com/2012/12/kidung-jemaat-110.html

Judul tulisan ini adalah judul lagu pujian yang saya kutip dari buku lagu Kidung Jemaat. Ya, itu adalah sebuah buku lagu rohani umat kristiani yang biasa digunakan dalam setiap ibadah Minggu jemaat gereja berbagai denominasi di bawah naungan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI).

Lagu "Ya Tuhan Tiap Jam" itu sendiri menempati nomor 457 dari total 478 lagu yang ada.

Saya sengaja menuliskan tentang artikel bertemakan lagu yang memiliki lima ayat ini karena untuk pertama kali dalam hidup saya sebagai kepala rumah tangga, saya memperkenalkan kepada putri saya, Enet Le Miracle (10 bln) bagaimana cara ber-Tuhan yang benar.

Tadi dini hari, Rabu (29/1/2014) hujan di daerah rumah kami sangat deras. Bahkan, hujan telah tercurah dari langit sejak malam, Selasa (28/1/2014) sekitar pukul 22.00. Dan, ketika saya terbangun sekitar pukul 04.30, hujan masih awet dengan intensitasnya yang tinggi.

Alhasil, air pun mulai menggenangi depan rumah kami. Tidak tanggung-tanggung, genangan air sudah mencapai lebih dari setengah meter.

Saya panik. Terlebih, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Secara naluriah, dan spontan tentu saja, saya coba cari informasi tentang kondisi sekitar.

Khawatir pun mulai merasuk. Pasalnya, kata berita televisi, banjir sudah mulai mengepung Jakarta kembali.

Istri dan putri saya segera terjaga, manakala saya bangunkan dan beritahu kondisi di luar rumah.

"Kenapa aku gak dibangunin, Bang?" celetuk Eva, istri saya dengan raut wajah yang mulai tampak kebingungan.

Tapi, tidak dengan Enet. Mata bulatnya yang cantik tetap teduh dan memberi kehangatan. Tak tampak kepanikan. Bisa jadi karena dia belum paham akan dunia ini.

Segera saya katakan kepada istri dan putri saya, bahwa kondisi ini berbahaya. "Kita harus bersiap."

Tapi, sontak saya langsung meraih gitar dan buku lagu pujian Kidung Jemaat, alih-alih melakukan hal-hal yang lain seperti berkeluh kesah, mengomel, atau bahkan mencari perhatian lewat komentar-komentar tidak bermakna di berbagai media sosial.

"Enet..kalau hujan terus seperti ini, bukan tidak mungkin kita akan kebanjiran. Jadi, satu-satunya cara kita harus minta ke Tuhan. Nah, karena Tuhan yang kita percaya dalam nama Yesus Kristus itu bertahta di atas pujian, maka yuk kita nyanyi memuji dia. Dan, lihatlah apa yang akan terjadi nanti," khotbah saya ke sang putri dan istri.

Ya Tuhan tiap jam.
Ku memerlukan-Mu
Engkaulah yang memb'ri
Sejahtera penuh

Setiap jam, ya Tuhan
Dikau kuperlukan
Ku datang Juruselamat
Berkatilah 

Entah ini hanya kebetulan belaka atau bukan. Tapi faktanya, selesai kami bernyanyi dengan sepenuh hati (saat itu air mata saya tak terbendung lagi), hujan reda! Ajaib!

Saya kembali katakan ke putri saya, yang selama kami (saya dan istri) bernyanyi, dia hanya bisa melongo sambil mengemut jempol kanannya, bahwa inilah kuasa Tuhan.

Dan, hanya butuh waktu kurang dari dua jam saja, genangan air di depan rumah kami surut.

Soal percaya atau tidak, itu sangat relatif. Tapi, soal keyakinan dalam ber-Tuhan, kami punya cara tersendiri yang ampuh dan ajaib!




-PO-
*23:23
**Ya Tuhan Tiap Jam adalah lagu rohani favorit saya sejak pertama kali berkenalan dengan lagu-lagu rohani dari Kidung Jemaat di usia 5 tahun-an. Lagu itu ditulis oleh Annie Sherwood Hawks pada 1872 dengan judul asli "I Need Thee Every Hour"

12/22/13

Ratu, Timnas-U-23, dan Musibah

Diego Michiels (bertopi) sedang dikawal petugas dengan tangan terborgol  saat penyerahan berkas pemeriksaan di Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012). Michiels menjadi tersangka dalam dugaan kasus pemukulan terhadap mahasiswa asal Bogor di diskotek Domain Senayan pada tanggal 8 November lalu. 

MALAM baru saja mengambil perannya, menggantikan senja di Masjid Baitussolihin, Jalan Bahayangkara nomor 1, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin 7 Oktober 2013; ketika Ratu Atut Chosiyah menggelar istiqasah atau pengajian bersama ribuan warga Banten.

Doa dan shalawat pun dinaikkan secara bersama. Tujuannya satu! Ada sebuah keajaiban yang hinggap. Ya, paling tidak mukjizat itu berwujud rasa damai di hati yang gundah pasca ditetapkannya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan -sang adik kandung Atut- oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wawan memang sedang tersandung kasus suap kepada Ketua Mahkamah Konstitusi non-aktif Akil Mochtar.

Tentu, bukan Tuhan yang tertidur manakala doa-doa seolah tak mujarab. Tapi, memang naturalitas dari doa itu sendiri yang tak bisa dipaksakan, bahwa doa tidak akan mengubah Tuhan (dalam membuat keputusan). Tapi, doa, sejatinya, justru merubah manusia yang memanjatkannya. Begitu sabda Soren Kierkegaard, seorang filsuf kenamaan dari Denmark.

Walhasil, alih-alih merasakan damai di hati, Ratu Atut malah menjadi shock manakala KPK juga menetapkan sang gubernur Banten ini menjadi tersangka dalam kasus korupsi dugaan suap sengketa pemilihan kepala daerah di Lebak, Banten, pada Selasa (17/12).

Sementara itu di tempat lain berjarak ribuah kilometer, malam juga masih menggelayuti stadion Zeyar Thiri, di Naypyidaw, Myanmar, Sabtu (21/12). Meski ada ribuan orang saling bersorak menyemangati finalis sepakbola, Indonesia-Thailand di ajang Sea Games ke 27 ini, tapi itu tak cukup menyemarakkan stadion yang berkapasitas 30 ribu penonton itu.

Paling tidak, banyaknya bangku kosong yang tampak dari layar kaca SCTV, ini membuktikan kurang semaraknya suasana di negeri tanah emas itu.

Seolah ingin turut menyemarakkan ajang final sepak bola Sea Games 2013 tersebut, saya sekeluarga malah membuat keriuhan tersendiri di rumah. Ayahanda saya sibuk melontarkan komentar setiap kali timnas U-23 gagal menembakkan bola ke gawang Thailand dengan tepat.

“Itu mereka apa ngga' pernah berlatih menembak jarak jauh, ya? Kok tembakannya melenceng melulu sih?”

Saya sendiri, coba buat keriuhan kecil dengan celetukan-celetukan kekecewaan melihat kerja sama timnas U-23 yang tak sebaik para juniornya di timnas U-19 dalam mengolah ‘si kulit bundar’.

Lain cerita dengan sang ibu. Tidak ada komentar yang terlontar dari mulutnya manakala Yohanes Pahabol dkk seperti tak berdaya menembus pertahanan timnas Thailand. Namun, ibu malah sibuk mengucapkan nama Tuhan Allah memohon kemenangan bagi pasukan ‘merah-putih’.

Beliau seolah mengamini ajakan sang pembawa acara siaran langsung tersebut, mendoakan timnas agar menang dalam ajang bergengsi se-Asia Tenggara ini. Mulutnya pun kerap berkomat-kamit, tetapi mata tetap fokus menonton siaran langsung.

Asa masih digantungkan ke langit, manakala asisten wasit pertandingan mengangkat papan informasi tambahan waktu yang menandakan pertandingan akan segera berakhir dalam empat menit ke depan. Keadaan saat itu Indonesia tertinggal 0-1 lewat gol Sarawut Masuk.

Sayangnya, doa juga seakan enggan memberikan skill tambahan bagi pemain Indonesia. Bagaimana tidak, seorang Diego Michiels pun masih kerap melakukan kesalahan elementer: passing antar-pemain!

Tidak tanggung-tanggung! Paling tidak, dua kali pemain naturalisasi, yang dianggap lebih hebat dari pemain lokal ini memberikan umpan kepada pemain cadangan yang berada di luar lapangan.

Ya, Michiels justru membuang bola keluar lapangan bukan memberikan ke temannya yang sudah bersiap menerima umpan dan kemudian memberikan keuntungan kepada pemain Thailand, alih-alih mengejar ketertinggalan timnya sendiri.

Kekalahan sepertinya melekat dengan timnas U-23 maupun senior. Entah sampai kapan tradisi kalah dalam ajang sepak bola internasional berhasil diputuskan oleh mereka.

Hanya Tuhan yang Maha Agung pemilik jawaban itu. Saya, Anda, dan semua penikmat sepak bola Indonesia hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga, kekalahan 1-0 dari Thailand di Sea Games kali ini bukanlah musibah.

Ya, musibah seperti yang diucapkan oleh Ratu Atut manakala keluarganya ‘kalah’ dari KPK dalam kasus dugaan korupsi. 


-PO-



10/15/13

Pesan

Enet Le Miracle (kanan) menindih saya yang sedang tidur. Foto diambil Selasa (16/4/2013).
Dalam hitungan detik. Dan, klik! Tombol "update status" pun tertekan. Lalu, muncullah serangkaian kata: "Selamat idul Adha semuaaa". Tertayang rangkaian kalimat mengandung pesan dari seorang kawan-entah di mana ia memencet tombol tersebut-yang memang berjejaring dengan saya di media sosial Facebook.

Rangkaian kalimat lain pun turut menyusul. Kali ini dari teman yang lain, masih dengan nada pesan yang sama: ucapan selamat hari raya Idul Adha. Maklum, hari ini memang peringatan peristiwa kurban bagi umat Muslim.

Riuh. Begitu yang terpancar dari layar monitor komputer ini. Kalimat demi kalimat seolah saling bersahutan membawa pesannya masing-masing. Tentu, itu belum termasuk bingkai-bingkai foto yang memaktubkan pesan gambar dengan beragam gaya. Sebut saja mulai dari foto diri yang diringi dengan kalimat pujian "Cakep kan gue...," hingga gambar berbagai jenis makanan yang dipajang di dinding situs terpopuler di Indonesia ini.

Kata dan gambar pun merefleksikan pesan tersendiri. Pun demikian dengan makna yang menyertainya. Si pengirim dan penerima pesan sejatinya wajib berbagi pengalaman hidup yang sama. Tentu saja dalam upaya terciptanya kesepahaman. Atau, komunikasi yang efektif, begitu kata sang pakar Wilbur L. Schramm.

                                            *** 

Sabtu pagi yang cerah (12/10/2013), sekira pukul 05.30 WIB. Lengan kiri saya terasa terhantam sesuatu. Acuh. Saya pun tetap larut dalam lelap. Maklum, hari itu adalah hari libur dari pekerjaan kantor. 

Dalam sekejap, hantaman kembali menerjang. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Ini sudah terpola. Memunculkan sejuta tanya di benak. Hingga kemudian akhirnya tersadar ketika mulai membelalakkan mata dari pejam. Ah, ternyata sang putri tercinta. Pagi itu ia menunjukkan jati dirinya sebagai bayi 7 bulan: coba bergerak aktif. Termasuk berguling-guling hingga coba merangkak, meski acap menghantam berbagai benda seperti lengan saya, ayahandanya. 

"Selamat pagi, Enet.." ucap saya seraya menahan kantuk.

Sadar saat itu hari Sabtu, saya coba ambil kesempatan: memperpanjang waktu tidur. Ya, di hari kerja, pada jam segitu saya sudah mencapai setengah perjalanan menuju kantor di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan.     

Belum juga mimpi indah menghampiri, sesuatu kembali mengusik saya. Kali ini lebih mengejutkan. Pasalnya, mata saya berlinangan air. Bukan air mata, melainkan air liur. Sebab, lidah Enet masih coba menjulur ke arah mata saya yang sudah mulai terjaga karena kaget.

Di tengah perasaan yang mulai teraduk bak isi perut mobil molen, saya melihat sebuah senyum coba dilemparkan buah hati saya. Efek ikutan pun tak terelakkan. Senyum lebar mengembang juga dari bibir saya. "Wuah, Enet bangunin Bapak, ya...?!" kata saya sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30. "Makasih, ya sayang..."

Saya pun tersadar. Hari itu saya harus mengajar di Salemba untuk kelas jam 07.50. Alhasil, tanpa pikir panjang lagi, segera saya beranjak dari peraduan menuju kamar mandi setelah terlebih dahulu membelai putri saya dan menghujaninya dengan sejuta kecupan hangat sebagai wujud terima kasih atas air liurnya tadi. 

                                          ***

Kalau pesan ternyata hanya terbatas pada kata, kalimat dan gambar saja, bisa jadi manusia tidak akan menjadi mahluk yang sempurna. Pasalnya, pesan non-verbal seperti hantaman atau bahkan air liur yang dijulurkan ke mata saya justru yang melengkapi ragam pesan keturunan adam-hawa bahkan dari seorang bayi 7 bulan seperti Enet Le Miracle, anak saya. 

Bahkan, tulisan bejudul "Pesan" ini juga sejatinya menjadi pesan tersendiri. Soal makna? Terserah Anda... 



-PO-
23:27
15102013
*darisudutkamaryangpanas