Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

5/17/25

Degeneratif

Taken from: https://www.news-medical.net/health/Neurological-Disorders-vs-Neurodegenerative-Disease.aspx 

Akhirnya,...


Menulis lagi. Setelah sekian lama. Berjuang untuk tetap konsisten semangat. Baru sekarang paripurna. 


Mungkin ini yang dinamakan faktor U. Penambahan usia tidak sertamerta memberikan daya semangat baru untuk beraktivitas, wabil khusus menulis. Makin tua juga makin terasa mager alias malas gerak. Di sinilah saya salut dengan kakak Luna Maya. Tua, tak menyurutkan hasrat berkomitmen dalam mengarungi hidup bersama pasangannya. Duh, kok jadi lari ke situ sih? Ndak apalah. Ini kan tulisan untuk blog. Bukan materi tulisan ilmiah atau juga materi kuliah.


Soal tua ini menarik. Ternyata, ada kecenderungan bagi setiap insan yang mulai menapaki usia 40 tahun akan secara otomatis terserang penyakit wajib. Iyes, kaum 40-an akan cenderung menjadi penyandang degenerative disease. Sebut saja dari mulai kualitas pandangan yang berkurang hingga tulang belulang yang merenggang. 


Seorang teman saya yang berprofesi sebagai dokter spesialis rehabilitasi medik mengatakan bahwa kaum 40-an itu rentan menderita sakit tulang dan otot. Mulai dari pegal linu hingga sakit nyeri populer saraf kejepit muncul kepermukaan. Tapi, yang menarik dan unik adalah ada faktor yang membersamai penambahan usia pada setiap penderita penyakit itu. Sang kawan menyebutnya: lifestyle aka gaya hidup yang buruk!


Soal gaya hidup memang pelik. Dia bak dua sisi mata koin yang saling terkait tapi mengambil posisi yang bertolak belakang. Di satu sisi gaya menjadi sebuah dorongan yang menghasilkan kenikmatan tersendiri: mulai dari kenikmatan yang muncul dari dalam diri atau kenikmatan yang muncul dari luar akibat pemaknaan orang lain. Namun, di sisi lain, gaya itu cenderung membutakan kita akan adanya ancaman: Penurunan kualitas diri secara tertentu atau keseluruhan, kalau ndak mau dibilang kerusakan, atau bahkan penderita degenerative disease. (Khusus soal degenerative disease itu, monggo ditelusuri sendiri kepada Paman Google yah sodara-sodara, tuan-tuan dan tuin-tuin...xixixixixi).


Begini sederhananya. Hidup kita itu, dua per tiga-nya adalah duduk. Yup, data menunjukkan bahwa manusia ternyata lebih dominan duduk daripada mikir. Eh, maap. Maksud saya melakukan aktivitas lain, termasuk mikir #Eaaa Balik lagi dengan gocekan maut ala Messi hahaha.. (Lagi, soal data itu juga monggo cek ulang aja secara mandiri kalau ndak percaya ato bahkan bingung. Kecuali Anda termasuk si 40-an itu yah, dimaklumi kok kalo malas #Eh).


Dan dalam setiap duduk kita, gaya duduk yang paling populer, saya percaya, adalah bersandar ala Sultan. Gimana tuh? Di sini asyiknya sebuah tulisan. Coba aja pikir sendiri kalau jadi Sultan aka orang yang powerful akan duduk sesuka hatinya. Yang penting bisa bikin kita paling nyaman. Duh, kata nyaman kok jadi momok, yah? Kenapa? Karena, ternyana eh ternyana nyaman dalam duduk (bicara duduk loh ini bukan nyaman dalam romantisme ala Luna Maya #looohhhh :p) erat kaitannya dengan mempertaruhkan kualitas tubuh menjadi semakin menurun,... dan menurun,... dan menurun secara perlahan namun pasti. Sepasti pertambahan usia dan jumlah repetisi aktivitas duduk yang katanya nyaman tapi mematikan itu. (Maksudnya ini menyakitkan yang mematikan loh, yah ekekekekekek)

 

Duduk yang dianggap nyaman cenderung memposisikan tubuh bagian bokong dan tulang panggul serta lumbar punggung kita tidak baik. Kawan dokter saya tadi menyatakannya: Secara medis duduk yang pingin nyaman dengan leyeh dan bersandar hingga tiduran adalah sangat tidak tepat. Dan ketika soal posisi salah duduk ini dilakukan secara repetitif, maka pada umumnya, usia 40-an tahun adalah momen di mana sakit molaik menjadi teman karib yang cukup setia #Uhuy.  Soal bagaimana teknis duduk yang baik dan memberikan kenyamanan yang hakiki, monggo lagi,...dan lagi sila dicek sumber-sumber ilmiah, yah. Jangan malas untuk mencari tahu. Sebab sesungguhnya, makan tahu jauh lebih nyaman dari segalanya ckckckckckck.. #Aposehhh :p 


Duduk seenaknya demi sensasi nyaman rasanya sering dilakukan saat menonton sebuah tayangan tertentu. Tadinya mau bilang, saat menonton tv. Etapi, sekarang orang sudah jarang menonton tv (begitu sih kabar burung-nya; soal ini saya belum miliki bukti kuat yang menunjukkan soal penurunan jumlah penonton tv itu). Tapi, itu bukan satu-satunya. Nonton di bioskop juga paling asyik nan nyaman sambil leleyehan sembari sesekali curi-curi pandang ke pasangan di samping-kalo lagi PDKT sama pasangan loh, yah. Kalok sudah suami-istri, saat nonton bioskop mah,...rasanya,..yah...ada baiknya nanti kita tanyakan lagi kepada kak Luna, yah? #Looohhhh?! :p 


Kalau duduk di tempat yang relatif serius, bijimana, yah? Maksudnya, kalau kita sedang di bangku kelas kuliah (harusnya kelas kuliah adalah contoh yang paling tepat untuk mewakili tingkat keseriusan seseorang dalam beraktivitas), apakah kita cenderung mementingkan kenyamanan dan mengorbankan kesehatan, yang berujung menjadi pesakitan jua kah? Ini mulai serius keknya :)


Bagaimana pun posisi duduk kita di bangku kelas kuliah, sejatinya TIDAK BOLEH mengurangi tingkat kemampuan berpikir kritis kita. Bahasa kerennya, kuliah sejatinya menjadi sebuah usaha mencerdaskan pola pikir melalui kumpulan gagasan yang saling di-diskusikan atau bahkan diperdebatkan dengan serangkaian metode yang dapat dipertanggungjawabkan: ILMIAH! Bukan, malah, sebaliknya, mendegenerasi aka membodohi dengan cerita bualan yang kosong nan tidak kredibel!


Saya suka sekali dengan terminologi yang digunakan oleh penulis Hermann A. Maurer. Katanya, saat-saat ini, kecakapan kita dalam berpikir kritis menjadi pertanyaan besar, kalau ndak mau disebut diragukan kualitasnya. Menurut Herman, yang menjadi konsern terbesar abad ini adalah saat di mana fenomena penggunaan internet dan teknologi penyertanya seolah melumpuhkan daya pikir kritis kita. Coherent logical thinking is in danger!!! Begitu, katanya, saya kutip langsung. Dia secara panjang kali lebar menjelaskan tali-temali keterkaitan di antara pola konsumsi internet dengan kemampuan berpikir manusia. Singkatnya, Herman menyerukan agar kita wajib waspada pada segala hal yang terkait dengan dunia internet dan tetek bengeknya. Kecuali Anda mau menjadi bodoh!


Loh, soal duduk tadi gimana ceritanya? Ceritanya, salah satu penyemangat saya untuk kembali menulis meski usia sudah masuk 40-an adalah keinginan tidak mau menjadi bodoh. Kan ndak lucu. Sudah lah menderita sakit wajib akibat usia, harus pula tersiksa sakit di otak karena tontonan dari internet yang sangat menggerus kualitas berpikir bernas yang kita miliki. 


Oiya, coba deh tonton tayangan YouTube dengan kata kunci Kuliah Publik. Ada sebuah tayangan dengan label kuliah di sana. Ada pula ajakan berpikir dalam narasi tulisan di keterangan tayangan itu. Tapi, kok,...yang disampaikan hanyalah berisi cerita yang tidak lebih serius dari isi blog saya? Soal data,..soal konsep-berikut metodologinya, dan soal dialektika yang menjadi beberapa penanda keseriusan kuliah hanyalah tinggal cerita kosong belaka.


Apakah ini gegara orang-orang yang tampak menyimak kuliah itu salah duduk sehingga terlena dalam kenyamanan yang semu? Atau, mereka semua adalah kumpulan orang tua yang kualitasnya sudah menurun signifikan sehingga tidak bisa berpikir kritis untuk mempertanyakan: Apakah yang membuat kuliah ini KREDIBEL (dan tentu saja dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan ilmiah-bukan sekadar cerita kosong ala media sosial)??? Apa perlu sekali lagi kita libatkan kak Luna Maya soal-soal seserius ini? 


Ah,..kak Luna kan sedang menikmati bulan madu sehabis menikah. Baiknya jangan diganggu. Lagian, kan, saya sudah berhasil menulis lagi, tho?! Anda sendiri, gimana? hehe...


-PO-

*LewatTengahMalam

**DariSudutPasarMingguRaya    

12/22/13

Ratu, Timnas-U-23, dan Musibah

Diego Michiels (bertopi) sedang dikawal petugas dengan tangan terborgol  saat penyerahan berkas pemeriksaan di Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012). Michiels menjadi tersangka dalam dugaan kasus pemukulan terhadap mahasiswa asal Bogor di diskotek Domain Senayan pada tanggal 8 November lalu. 

MALAM baru saja mengambil perannya, menggantikan senja di Masjid Baitussolihin, Jalan Bahayangkara nomor 1, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin 7 Oktober 2013; ketika Ratu Atut Chosiyah menggelar istiqasah atau pengajian bersama ribuan warga Banten.

Doa dan shalawat pun dinaikkan secara bersama. Tujuannya satu! Ada sebuah keajaiban yang hinggap. Ya, paling tidak mukjizat itu berwujud rasa damai di hati yang gundah pasca ditetapkannya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan -sang adik kandung Atut- oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wawan memang sedang tersandung kasus suap kepada Ketua Mahkamah Konstitusi non-aktif Akil Mochtar.

Tentu, bukan Tuhan yang tertidur manakala doa-doa seolah tak mujarab. Tapi, memang naturalitas dari doa itu sendiri yang tak bisa dipaksakan, bahwa doa tidak akan mengubah Tuhan (dalam membuat keputusan). Tapi, doa, sejatinya, justru merubah manusia yang memanjatkannya. Begitu sabda Soren Kierkegaard, seorang filsuf kenamaan dari Denmark.

Walhasil, alih-alih merasakan damai di hati, Ratu Atut malah menjadi shock manakala KPK juga menetapkan sang gubernur Banten ini menjadi tersangka dalam kasus korupsi dugaan suap sengketa pemilihan kepala daerah di Lebak, Banten, pada Selasa (17/12).

Sementara itu di tempat lain berjarak ribuah kilometer, malam juga masih menggelayuti stadion Zeyar Thiri, di Naypyidaw, Myanmar, Sabtu (21/12). Meski ada ribuan orang saling bersorak menyemangati finalis sepakbola, Indonesia-Thailand di ajang Sea Games ke 27 ini, tapi itu tak cukup menyemarakkan stadion yang berkapasitas 30 ribu penonton itu.

Paling tidak, banyaknya bangku kosong yang tampak dari layar kaca SCTV, ini membuktikan kurang semaraknya suasana di negeri tanah emas itu.

Seolah ingin turut menyemarakkan ajang final sepak bola Sea Games 2013 tersebut, saya sekeluarga malah membuat keriuhan tersendiri di rumah. Ayahanda saya sibuk melontarkan komentar setiap kali timnas U-23 gagal menembakkan bola ke gawang Thailand dengan tepat.

“Itu mereka apa ngga' pernah berlatih menembak jarak jauh, ya? Kok tembakannya melenceng melulu sih?”

Saya sendiri, coba buat keriuhan kecil dengan celetukan-celetukan kekecewaan melihat kerja sama timnas U-23 yang tak sebaik para juniornya di timnas U-19 dalam mengolah ‘si kulit bundar’.

Lain cerita dengan sang ibu. Tidak ada komentar yang terlontar dari mulutnya manakala Yohanes Pahabol dkk seperti tak berdaya menembus pertahanan timnas Thailand. Namun, ibu malah sibuk mengucapkan nama Tuhan Allah memohon kemenangan bagi pasukan ‘merah-putih’.

Beliau seolah mengamini ajakan sang pembawa acara siaran langsung tersebut, mendoakan timnas agar menang dalam ajang bergengsi se-Asia Tenggara ini. Mulutnya pun kerap berkomat-kamit, tetapi mata tetap fokus menonton siaran langsung.

Asa masih digantungkan ke langit, manakala asisten wasit pertandingan mengangkat papan informasi tambahan waktu yang menandakan pertandingan akan segera berakhir dalam empat menit ke depan. Keadaan saat itu Indonesia tertinggal 0-1 lewat gol Sarawut Masuk.

Sayangnya, doa juga seakan enggan memberikan skill tambahan bagi pemain Indonesia. Bagaimana tidak, seorang Diego Michiels pun masih kerap melakukan kesalahan elementer: passing antar-pemain!

Tidak tanggung-tanggung! Paling tidak, dua kali pemain naturalisasi, yang dianggap lebih hebat dari pemain lokal ini memberikan umpan kepada pemain cadangan yang berada di luar lapangan.

Ya, Michiels justru membuang bola keluar lapangan bukan memberikan ke temannya yang sudah bersiap menerima umpan dan kemudian memberikan keuntungan kepada pemain Thailand, alih-alih mengejar ketertinggalan timnya sendiri.

Kekalahan sepertinya melekat dengan timnas U-23 maupun senior. Entah sampai kapan tradisi kalah dalam ajang sepak bola internasional berhasil diputuskan oleh mereka.

Hanya Tuhan yang Maha Agung pemilik jawaban itu. Saya, Anda, dan semua penikmat sepak bola Indonesia hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga, kekalahan 1-0 dari Thailand di Sea Games kali ini bukanlah musibah.

Ya, musibah seperti yang diucapkan oleh Ratu Atut manakala keluarganya ‘kalah’ dari KPK dalam kasus dugaan korupsi. 


-PO-



9/6/13

Say your love with origami

Two origami of birds taken from BlackBerry 8250 camera on Thursday night (5/9/2013) 


Indeed, there are so many ways to express love to your beloved ones. You name it! Starting from the simplest one just by saying "I love you" up to the complicated way with a well-planned surprise.

Which one do you prefer? It's totally your prerogative to choose. And it seems my wife has her own way to show it to our lovely daughter.

Yup, on Thursday night (5/9/2013), in the middle of our togetherness, Eva suddenly came up with a pack of paper. "Taraaaaa...look what I have here. It's paper to make origami...I want to make it for you," said Eva to our 6-month-old daughter Enet Le Miracle.

It was completely shocking as I never thought that Eva would come up with such a brilliant idea. A sort of different way to express love in a simple as well as worthwhile work.

"Here you go, origami of bird...." she uttered. "Mamak dan Bapak sayang Enet..." (an Indonesian expression of "we love you Enet..)


-PO-
6/9/2013
21.09

8/7/13

Cinta dalam Semangkuk Minyak Kemiri

Minyak kemiri dalam mangkuk yang dimasak tanpa pengawet selama sekitar 2 jam, Selasa (06/08/2013). Foto koleksi pribadi diambil dengan kamera henpon.

"I love you, easy to say but it takes a long time to prove..."

Mari kita bicara cinta (lagi)... 

Hmm..saya berasumsi Anda bosan bicara cinta. Entah itu karena Anda belum mendapatkan cinta sejati, atau justru karena sedang ketiban pulung: patah hati (lagi), atau mungkin Anda muak mendengar kata cinta karena cinta menjadi seonggok mahluk yang terlalu "basi" untuk dibicarakan. 

Baiklah. Anggaplah asumsi itu benar. Jadi, lebih baik kita sudahi saja bicara cinta.

Tapi, saya masih ingin melanjutkan tulisan ini. 

Izinkan saya sedikit mengganti ajakan tadi dengan: 

Mari kita buktikan cinta...

Ya, seharusnya sedikit lebih baik. Sebab, kali ini cinta akan berwujud. Tidak lagi abstrak, se-abstrak rayuan gombal ala Alay : "Neng, Tanah Abang luas loh..Kalau ndak percaya, tanya saja sama orang-orang".

Lalu, apa bukti cinta itu? 

Banyak! Bahkan teramat banyak! Dulu, ketika saya masih ABG (Anak Baru Gede) seringkali saya dengar kawan-kawan yang berpacaran (pria-wanita) mengatakan bahwa kalau ciuman (di bibir) menjadi hal yang lazim sebagai bukti cinta. Beranjak dewasa, saya mendengar kisah lain. Bahwa kalau memang cinta, "Yuk, bajunya dibuka dong biar kita bisa bercinta.."

Membayari ketika sedang beli makanan atau barang-barang lain juga acap dijadikan bukti kadar cinta seseorang.

Lain cerita dengan pengunjung jembatan Hohenzollernbrucke di Koln, Jerman. Tahun 2010 saya menyaksikan bagaimana warga Koln atau turis yang mengunjungi jembatan itu berlomba-lomba menunjukkan bukti cinta mereka dengan sebuah gembok yang dikuncikan di sela-sela sisi jembatan tersebut. Uniknya, simbol cinta dalam gembok itu tidak hanya milik mereka yang berpasangan seperti pria-wanita, tapi juga pasangan sejenis. Tidak hanya itu, mereka yang satu keluarga juga terlihat ikut memasangkan gembok di jembatan yang dibangun antara tahun 1907 dan 1911 tersebut. 



Pasangan pria-wanita melintasi jembatan Hohenzollernbrucke di Koln, Jerman yang dipenuhi dengan "gembok cinta" di satu sisinya. Image courtesy of http://hungeree.com/culture/the-love-locks-of-cologne-germany/


Tentu saja, gembok yang ditautkan dijembatan yang melintasi sungai Rhine itu bukanlah gembok biasa, melainkan sebuah gembok yang sudah digrafir dengan kata-kata tertentu (biasanya nama yang bersangkutan dan tanggal pemasangan gembok itu).  


Sebuah ungkapan cinta yang diukir di gembok: "A promise of love to our family". Image courtesy of http://journals.worldnomads.com/amy_velleman/photo/36714/917552/France/For-me-this-image-symbolises-Paris-more-traditionally-known-as-the-city-of-love 

Jelas sudah. Bukti cinta, bayaklah ragamnya. Mulai dari sekadar untaian kata-kata romantis, atau memberikan pengorbanan tertentu, hingga membuat beragam simbol cinta seperti rentetan gembok di jembatan (fenomena simbol cinta di jembatan juga terdapat di beberapa negara di Eropa dan Australia).

Saya juga tak mau ketinggalan  buktikan cinta kepada pasangan dan anak perempuan saya. Merelakan waktu tidak kurang dari dua jam untuk menemani istri menggongseng kemiri pada Selasa (07/08/2013) semoga menjadi bukti cinta itu sendiri. Ini menjadi lebih berarti manakala hasil minyak kemiri itu akan kami oleskan di kepala puteri kami demi mendapatkan rambut yang tebal dan berwarna hitam bak mahkota yang indah.

Hmmm,...apalah artinya bukti cinta itu? Bunda Teresa pernah berujar, "Not all of us can do great things. But we can do small things with great love". Ya, semoga menemani istri menggongseng minyak kemiri demi sang puteri jadi hal kecil yang membuktikan besarnya cinta itu sendiri..


-PO-
070812
16.03 WIB
 

7/27/13

Teh, Televisi, dan Munarman

Image courtesy of http://nasional.inilah.com/read/detail/2004688/munarman-fpi-siram-air-teh-ke-sosiolog-ui#.UfPAUNJcxtg
Pada suatu Minggu pagi. Libur dari pekerjaan kantor dan cuaca yang cerah. Saya pun masih terbaring di kasur. Bukan untuk berleyeh-leyeh tapi karena lemas akibat diare.
“Pir, ini teh panasmu. Minum dulu,” ujar ibu saya sambil menyuguhkan segelas teh tawar panas. “Habiskan. Biar segera berhenti diaremu”.

Ya, orangtua saya meyakini bahwa teh tawar panas mampu menjadi penawar diare yang cukup ampuh. Keyakinan itu beliau percaya secara turun temurun. Bahkan, konon, ada jutaan orang Indonesia yang berkeyakinan sama dengan orangtua saya.

Soal benar-salah, tentu masih harus dipertanyakan. Sebab, keyakinan itu dilandasi mitos belaka, bukan alasan ilmiah.

Nah, secara ilmiah teh digadang-gadang memiliki beberapa khasiat, mulai dari mampu mencegah penyakit alzheimer hingga dipercaya mampu membantu proses penyembuhan penyakit kanker.

Teh & Khasiatnya
Peneliti meyakini bahwa kandungan kafein dan theanine yang terdapat dalam teh itulah yang kemudian membawa dampak pada penguatan daya ingat. Sementara kandungan antioksidan pada teh ditemukan mampu mencegah kanker dan tumor. Tidak hanya itu, penelitian lain juga menemukan khasiat antioksidan pada teh yang luar biasa: mampu mengurangi resiko stroke hingga 60% dan mampu menurunkan kondisi aterosklerosis (pengerasan & penyempitan pada pembuluh darah) hingga lebih dari 50% yang berujung pada mampu mencegah terjadinya penyakit jantung.

Cukup di situ? Tidak! Di dunia kecantikan, penelitian membuktikan bahwa kandungan katekin (catechins) pada teh hijau mampu memicu penurunan berat badan. Bahkan, teh juga baik untuk kesehatan gigi. Sebab, teh mengandung fluoride alami.

Sayangnya, dari sekian banyak khasiat teh tersebut, ternyata, masih kurang mampu meningkatkan jumlah konsumsi teh bangsa Indonesia. Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia, konsumsi rata-rata teh masyarakat Indonesia pada 2012 sebanyak 5.162 ons per kapita setahun, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 6.570 ons per kapita setahun. Kalau dirata-rata per orang, maka konsumsi teh per orang dalam satu tahun hanya sekitar 300 gram. Tentu ini jauh di bawah tingkat konsumsi teh negara lain yang bisa mencapai konsumsi 1000 gram per orang (misalnya: Australia: 600 gr per orang per tahun; Sri Lanka:1370 gram per orang per tahun). Alhasil, Indonesia hanya nangkring pada urutan ke 46 negara pengonsumsi teh di dunia.

Fakta ini jelas menjadi ironi tersendiri mengingat kebiasaan minum teh dianggap telah menjadi kebudayaan yang melekat dalam setiap suku bangsa Indonesia. Di Jawa Barat, misalnya. Hampir setiap warung makan atau bahkan restoran yang ada di daerah yang memiliki populasi paling padat se-Indonesia itu-menurut database SIAK Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 populasinya mencapai 46.497.175 juta jiwa-senantiasa menyajikan teh sebagai suguhan utama menu mereka. Bahkan, ada yang mengganti air putih dengan teh.    

Ah, jangan-jangan kebiasaan minum teh di Indonesia belum menjadi sebuah budaya yang sesungguhnya seperti di Jepang atau Cina, di mana kedua negara itu memiliki ritual khusus dalam mengonsumsi teh.
Atau, mungkin kebiasaan minum teh belum tersosialisasi dengan maksimal?

Televisi & Kekerasan
Coba simak saja program-program kuliner di televisi di Indonesia. Rasanya, sudah cukup banyak kok acara yang menampilkan menu makanan dengan berbagai jenis teh sebagai minuman pendampingnya. Kalau begitu, apakah ini malah menjadi pertanda bahwa kemampuan televisi dalam menciptakan gaya hidup dan berkuasa mendefinisikan norma-norma budaya pada khalayaknya, seperti yang dicetuskan DeFleur (1970) dalam teori norma budaya (the norm and cultural theory), sudah kehilangan taji?

Atau, bisa jadi telah terjadi pergeseran cara pandang khalayak televisi Indonesia dalam memaknai tayangan-tayangan televisi tersebut?

Khalayak televisi Indonesia mungkin tidak lagi memaknai kegiatan minum teh sebagai mana mestinya. Tapi, sebaliknya. Khalayak punya interpretasi yang berbeda. Bagi mereka, khususnya yang telah terterpa tayangan dialog di program Apa Kabar Indonesia di TV One (28/06/2013), minum teh bukan lagi berfungsi sebagai minuman. Tapi, teh bisa digunakan sebagai alat kekerasan seperti yang dilakukan oleh Munarman, jubir FPI, pada dialog tersebut ketika menyiramkan teh ke wajah Sosiolog Universitas Indonesia Tamrin Amal Tomagola.

Kalau sudah begini, saya pribadi akan memilih meminum teh, seperti yang dianjurkan oleh ibu saya. Meskipun meminum teh yang menyembuhkan diare itu bisa jadi hanya mitos. Tapi, paling tidak saya tidak terlibat dalam tindak kekerasan yang ternyata menurut data Kementerian Dalam Negeri tahun 2012, kasus radikalisme meningkat hampir 80 persen dari tahun sebelumnya.

-PO-

2/5/13

Teguran

Selamat datang 2013. Selamat datang Februari 2013. Selamat bagi kita semua yang telah diberkahi-Nya melewati masa silam.

Juga selamat bagi seorang kawan yang baru saja melepaskan masa lajang di Minggu siang (03/02/2013). Ya, kawan sekaligus senior di kampus 'Makara' dulu, juga rekan kerja di kantor saat ini.

Semoga saja, ucapan selamat ini seperti hal yang dipercaya orang Barat sebagai sebuah etika baik dalam berhubungan antarmanusia, juga dimaknai sebagai teguran yang bisa bermakna luas. Tidak hanya menunjukkan eksistensi tapi juga peringatan dan penanda bahwa jika dalam ucapan selamat ini tidak ada perubahan, misalnya perubahan dari seringkali terlambat masuk kantor atau bersikap tidak assertive maka, sia-sialah semua ucapan itu. Pasalnya, hubungan baik antarmanusia bisa menjadi tidak lagi harmonis, sejatinya...




-PO-
00:04 WIB
060213
*darikepengapankamardankepenatanotak