4/16/26

What a day..

Ilustrasi foto hanyalah pemanis tulisan. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi tulisan hehe..


Maksud hati ingin bercerita panjang kali lebar, tambah tinggi, jadi luas dan keliling; maksudnya kompleksitas sesuatu.


Ini erat kaitannya dengan isi hati (dan tentu saja pikiran) yang masih terus - hingga malam hari ini tulisan ini dibuat- berproses dalam diri.


Entah dari mana memulainya, juga bingung mengelaborasinya. Musababnya, semua seolah saling berebut ingin mendapatkan tempat yang utama. Tapi juga, semua memiliki makna yang cukup berarti dan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.


Hm,...


Kalau detil dari semua itu tertuang di sini, apakah itu cocok? Lalu, apa juga untungnya? Tentu saja bagi akyuh duns yang menuliskan cerita penuh makna ini? Kalau untuk yang membaca pastilah sangat beruntung, sudahlah dapat cerita baru, bisa jadi inspirasi pulak #Eaaaa xixixixixi *Piss.. :)


Satu hal yang membuncah dari jemari lentik di atas tuts laptop ini #Uhuy adalah upaya mensyukuri segala yang terjadi, khususnya semua yang terjadi di hari ini. Terdengar klasik dan klise sepertinya, bisa jadi demikian. Tapi, bukankah yang klasik itu adalah yang tidak lekang dimakan oleh zaman? Artinya, itu bisa bertahan di segala masa. Termasuk hari ini dan masa depan dalam berbagai situasi yang menerpa.


Dan, syukur kepada Tuhan (yang ku sembah di dalam Nama Yesus Kristus) atas semua anugerah yang telah tercurahkan sepanjang hari ini. Sungguh, ini terasa seperti sebuah hadiah. Yang orang 'bule' menyebutnya sebagai PRESENT : hadiah yang terjadi hari ini. 


Oh iya, acap, hadiah itu memberi efek kejut loh. Dan meski kejutan berdimensi positif dan negatif, ada impresi tersendiri yang mencuat di antara itu. Impresi itulah yang kemudian menutup tulisan dan hari ini dengan: What a day..


-PO-

16042026

*DariSudutRuangKamar :)



4/8/26

The Smoking Toilet

 

Hi there.. ;)
*A masterpiece by Double E - 2026

2/1/26

Menghitung Hari

Foto koleksi pribadi. Sebuah ekspresi lompatan tinggi ke udara menggapai harapan demi sebuah 'KEUTAMAAN'


 ..tadinya mau tulis number my days!


Cumak, kok rasanya kurang asyik hehe..


Tapi, esensinya kurang lebih sama. Hari berganti dengan cepat. Momen berlalu dengan singkat. Dan kesempatan silih berganti berdatangan. 


Lalu, kita (yup, aku dan kita semua) diharapkan membuat keputusan yang tepat nan bijaksana. Pastinya agar hidup ini lebih bermakna.


Nah, soal makna, acap dikaitkan dengan pencapaian atawa hasil usaha yang selalu seturut dengan kehendak kita. Akan berhasil nan memuaskan atawa sukses kalau keinginan kita terwujud.


Tapi, benarkah demikian?


Ini dia. Pentingnya untuk menghitung hari tadi. Memiliki kesadaran akan apa yang telah kita lalui tiap hari menjadi sebuah kesadaran untuk mulai mengerti bahwa ternyata, makna itu sejatinya tidak melulu berarti perwujudan sebuah keinginan kedagingan. Musababnya, ada yang lebih utama dari sebuah makna, yaitu 'KEUTAMAAN'.


Seonggok mahluk apa itu? Sulit dijelaskan. Karena memang bukan untuk dijelaskan secara logika. Melainkan, 'Keutamaan' inilah yang menjadi dasar seluruh makna hidup itu sendiri.


Ups n downs dari hidup akan senantiasa menjadi makna, manakala ada kesadaran bahwa itu semua ternyata tidak bisa dilepaskan dari 'KEUTAMAAN' dalam keseluruhan hari-hari kehidupan kita.


Dengan kata lain, semakin kita bisa mengenali dan meyakini keterkaitan segala pencapaian (dan juga kegagalan) dengan 'Keutamaan' tadi, maka ritme kehidupan akan menemui keseimbangannya. Banyak yang meyakini, di titik itulah akan ada ketenangan hati alias kedamaian. 


Duh, kok jadi panjang ceritanya..hehe


Sudah masuk bulan Februari 2026. Sudah Ada harapan yang yang tertunda. Tapi, masih bolehlah kita tetap ucapkan: Selamat Tahun Baru 2026 - sebuah ucapan penanda harapan masih ada, karena kesempatan menghitung hari masih terpampang luas di depan mata.


Semoga Tuhan memberkati kita semua!


-PO-

9/9/25

Father's day 1

Saya dan buah cinta di sebuah momen perayaan hari ayah yang penuh CINTA!


Pertama adalah cinta..


Lalu, ada tujuan...


Dan,..inilah ceritanya..


PO

*TengahMalamYangSyahduPenuhDenganCinta

090925

8/27/25

Perbincangan di musim semi..

Private collection :)


Kami bicara soal buku. Rencana menerbitkan buku yang sederhana (supaya bisa cepat proses-nya).

Dasar, pecinta serba instan ternyana masih mendarah-daging. Semua mau serba instan huh! hehe..


Ide dasar sudah mengemuka. Berbagai pilihan topik pun mulai terkuak. Bahkan sudah ada usaha mulai mendetailkan cerita.


Dan, VOILA!!!


Praktis tidak ada perdebatan berarti :) 

Apalagi penolakan, semua seperti mulus bak jalan tol yang lengang.


Cuma, ada satu. Soal ilustrasi penyerta jadi penekanan. Si kakak menolak dengan keras tawaran menggunakan bantuan teknologi AI untuk ilustrasi bukunya. 'I want to draw it by myself!' Begitu dia bersikeras. Tentu dalam nada gurau karena ditutup dengan tawa bahak yang membahana di antara kami.


Dasar, anak kreatif yang punya pendirian. Seolah merefleksikan kecerdasan 'ala bule': "I know what I am doing!" (soal frase ini asyik di-ngemengin tersendiri, euy; sebab, sepertinya banyak orang yang ndak tahu apa yang dia perbuat. Ingat, sepertinya loh, yahhhh...xixixixixi) 


Kesepakatan pun terjadi. Sepakat untuk melanjutkan ide besar ini menjadi kenyataan. Semoga Tuhan memberkati! :)


Ciao!


-PO-

270825

10.35pm

*Ilustrasi gambar adalah bentuk lain kreativitas si Kakak yang dituangkan dalam medium beads dengan pola binatang Gecko ;)

NB: Oiya, perbincangan kami lakukan sesaat sebelum bobok... hehe.

7/19/25

From Melbourne with LOVE..

Private collection :)


Rindu.. Itu sudah!


Cup!


-PO-

190725

5/17/25

Degeneratif

Taken from: https://www.news-medical.net/health/Neurological-Disorders-vs-Neurodegenerative-Disease.aspx 

Akhirnya,...


Menulis lagi. Setelah sekian lama. Berjuang untuk tetap konsisten semangat. Baru sekarang paripurna. 


Mungkin ini yang dinamakan faktor U. Penambahan usia tidak sertamerta memberikan daya semangat baru untuk beraktivitas, wabil khusus menulis. Makin tua juga makin terasa mager alias malas gerak. Di sinilah saya salut dengan kakak Luna Maya. Tua, tak menyurutkan hasrat berkomitmen dalam mengarungi hidup bersama pasangannya. Duh, kok jadi lari ke situ sih? Ndak apalah. Ini kan tulisan untuk blog. Bukan materi tulisan ilmiah atau juga materi kuliah.


Soal tua ini menarik. Ternyata, ada kecenderungan bagi setiap insan yang mulai menapaki usia 40 tahun akan secara otomatis terserang penyakit wajib. Iyes, kaum 40-an akan cenderung menjadi penyandang degenerative disease. Sebut saja dari mulai kualitas pandangan yang berkurang hingga tulang belulang yang merenggang. 


Seorang teman saya yang berprofesi sebagai dokter spesialis rehabilitasi medik mengatakan bahwa kaum 40-an itu rentan menderita sakit tulang dan otot. Mulai dari pegal linu hingga sakit nyeri populer saraf kejepit muncul kepermukaan. Tapi, yang menarik dan unik adalah ada faktor yang membersamai penambahan usia pada setiap penderita penyakit itu. Sang kawan menyebutnya: lifestyle aka gaya hidup yang buruk!


Soal gaya hidup memang pelik. Dia bak dua sisi mata koin yang saling terkait tapi mengambil posisi yang bertolak belakang. Di satu sisi gaya menjadi sebuah dorongan yang menghasilkan kenikmatan tersendiri: mulai dari kenikmatan yang muncul dari dalam diri atau kenikmatan yang muncul dari luar akibat pemaknaan orang lain. Namun, di sisi lain, gaya itu cenderung membutakan kita akan adanya ancaman: Penurunan kualitas diri secara tertentu atau keseluruhan, kalau ndak mau dibilang kerusakan, atau bahkan penderita degenerative disease. (Khusus soal degenerative disease itu, monggo ditelusuri sendiri kepada Paman Google yah sodara-sodara, tuan-tuan dan tuin-tuin...xixixixixi).


Begini sederhananya. Hidup kita itu, dua per tiga-nya adalah duduk. Yup, data menunjukkan bahwa manusia ternyata lebih dominan duduk daripada mikir. Eh, maap. Maksud saya melakukan aktivitas lain, termasuk mikir #Eaaa Balik lagi dengan gocekan maut ala Messi hahaha.. (Lagi, soal data itu juga monggo cek ulang aja secara mandiri kalau ndak percaya ato bahkan bingung. Kecuali Anda termasuk si 40-an itu yah, dimaklumi kok kalo malas #Eh).


Dan dalam setiap duduk kita, gaya duduk yang paling populer, saya percaya, adalah bersandar ala Sultan. Gimana tuh? Di sini asyiknya sebuah tulisan. Coba aja pikir sendiri kalau jadi Sultan aka orang yang powerful akan duduk sesuka hatinya. Yang penting bisa bikin kita paling nyaman. Duh, kata nyaman kok jadi momok, yah? Kenapa? Karena, ternyana eh ternyana nyaman dalam duduk (bicara duduk loh ini bukan nyaman dalam romantisme ala Luna Maya #looohhhh :p) erat kaitannya dengan mempertaruhkan kualitas tubuh menjadi semakin menurun,... dan menurun,... dan menurun secara perlahan namun pasti. Sepasti pertambahan usia dan jumlah repetisi aktivitas duduk yang katanya nyaman tapi mematikan itu. (Maksudnya ini menyakitkan yang mematikan loh, yah ekekekekekek)

 

Duduk yang dianggap nyaman cenderung memposisikan tubuh bagian bokong dan tulang panggul serta lumbar punggung kita tidak baik. Kawan dokter saya tadi menyatakannya: Secara medis duduk yang pingin nyaman dengan leyeh dan bersandar hingga tiduran adalah sangat tidak tepat. Dan ketika soal posisi salah duduk ini dilakukan secara repetitif, maka pada umumnya, usia 40-an tahun adalah momen di mana sakit molaik menjadi teman karib yang cukup setia #Uhuy.  Soal bagaimana teknis duduk yang baik dan memberikan kenyamanan yang hakiki, monggo lagi,...dan lagi sila dicek sumber-sumber ilmiah, yah. Jangan malas untuk mencari tahu. Sebab sesungguhnya, makan tahu jauh lebih nyaman dari segalanya ckckckckckck.. #Aposehhh :p 


Duduk seenaknya demi sensasi nyaman rasanya sering dilakukan saat menonton sebuah tayangan tertentu. Tadinya mau bilang, saat menonton tv. Etapi, sekarang orang sudah jarang menonton tv (begitu sih kabar burung-nya; soal ini saya belum miliki bukti kuat yang menunjukkan soal penurunan jumlah penonton tv itu). Tapi, itu bukan satu-satunya. Nonton di bioskop juga paling asyik nan nyaman sambil leleyehan sembari sesekali curi-curi pandang ke pasangan di samping-kalo lagi PDKT sama pasangan loh, yah. Kalok sudah suami-istri, saat nonton bioskop mah,...rasanya,..yah...ada baiknya nanti kita tanyakan lagi kepada kak Luna, yah? #Looohhhh?! :p 


Kalau duduk di tempat yang relatif serius, bijimana, yah? Maksudnya, kalau kita sedang di bangku kelas kuliah (harusnya kelas kuliah adalah contoh yang paling tepat untuk mewakili tingkat keseriusan seseorang dalam beraktivitas), apakah kita cenderung mementingkan kenyamanan dan mengorbankan kesehatan, yang berujung menjadi pesakitan jua kah? Ini mulai serius keknya :)


Bagaimana pun posisi duduk kita di bangku kelas kuliah, sejatinya TIDAK BOLEH mengurangi tingkat kemampuan berpikir kritis kita. Bahasa kerennya, kuliah sejatinya menjadi sebuah usaha mencerdaskan pola pikir melalui kumpulan gagasan yang saling di-diskusikan atau bahkan diperdebatkan dengan serangkaian metode yang dapat dipertanggungjawabkan: ILMIAH! Bukan, malah, sebaliknya, mendegenerasi aka membodohi dengan cerita bualan yang kosong nan tidak kredibel!


Saya suka sekali dengan terminologi yang digunakan oleh penulis Hermann A. Maurer. Katanya, saat-saat ini, kecakapan kita dalam berpikir kritis menjadi pertanyaan besar, kalau ndak mau disebut diragukan kualitasnya. Menurut Herman, yang menjadi konsern terbesar abad ini adalah saat di mana fenomena penggunaan internet dan teknologi penyertanya seolah melumpuhkan daya pikir kritis kita. Coherent logical thinking is in danger!!! Begitu, katanya, saya kutip langsung. Dia secara panjang kali lebar menjelaskan tali-temali keterkaitan di antara pola konsumsi internet dengan kemampuan berpikir manusia. Singkatnya, Herman menyerukan agar kita wajib waspada pada segala hal yang terkait dengan dunia internet dan tetek bengeknya. Kecuali Anda mau menjadi bodoh!


Loh, soal duduk tadi gimana ceritanya? Ceritanya, salah satu penyemangat saya untuk kembali menulis meski usia sudah masuk 40-an adalah keinginan tidak mau menjadi bodoh. Kan ndak lucu. Sudah lah menderita sakit wajib akibat usia, harus pula tersiksa sakit di otak karena tontonan dari internet yang sangat menggerus kualitas berpikir bernas yang kita miliki. 


Oiya, coba deh tonton tayangan YouTube dengan kata kunci Kuliah Publik. Ada sebuah tayangan dengan label kuliah di sana. Ada pula ajakan berpikir dalam narasi tulisan di keterangan tayangan itu. Tapi, kok,...yang disampaikan hanyalah berisi cerita yang tidak lebih serius dari isi blog saya? Soal data,..soal konsep-berikut metodologinya, dan soal dialektika yang menjadi beberapa penanda keseriusan kuliah hanyalah tinggal cerita kosong belaka.


Apakah ini gegara orang-orang yang tampak menyimak kuliah itu salah duduk sehingga terlena dalam kenyamanan yang semu? Atau, mereka semua adalah kumpulan orang tua yang kualitasnya sudah menurun signifikan sehingga tidak bisa berpikir kritis untuk mempertanyakan: Apakah yang membuat kuliah ini KREDIBEL (dan tentu saja dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan ilmiah-bukan sekadar cerita kosong ala media sosial)??? Apa perlu sekali lagi kita libatkan kak Luna Maya soal-soal seserius ini? 


Ah,..kak Luna kan sedang menikmati bulan madu sehabis menikah. Baiknya jangan diganggu. Lagian, kan, saya sudah berhasil menulis lagi, tho?! Anda sendiri, gimana? hehe...


-PO-

*LewatTengahMalam

**DariSudutPasarMingguRaya    

2/28/25

0095

Ilustrasi pribadi

Sedang menikmati kemenangan kecil, tapi sangat berarti.


Apa itu?


Ah,..masak diceritakan via blog yang serba imajiner ini sih?


Ketemuan dong..


Sambil ngopi genit pasti lebih asoy ceritanya hahaha..


Ya, sudah.


Segitu dulu aja yah..


Nguantuk, euy.


Zzz...zz...z...


-PO-

#LewatTengahMalam

*Judul tulisan ini juga bagian dari kemenangan loh. Cuma, porsinya, dia lebih besar dan ndak layak dibagikan untuk umum. Khawatir bikin iri banyak orang, euy xixixi.. :p   

2/24/25

Wakatobi

Foto koleksi pribadi, diambil dari https://www.instagram.com/p/BfiC-1rhblZ/?utm_source=ig_web_copy_link


Ceritanya lagi hanyut dalam nostalgi (maklum, bulan Februari) #Uhuy :p 


Saat menginisiasi penelitian lintas negara, lintas benua.


Anak Jakarta, yang bertapa di Melbourne Raya, merambah laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara sebatang kara haha..


Hasilnya...


Aha... #SenyumDuluDuns :)


Dah, gitu ajah..


Ciao!


PO

240225

*JelangTengahMalam


2/14/25

Valentine's day

Sebuah masterpiece dari si buah hati :)


Ceritanya sedang meresapi makna hari kasih sayang ala bule.

Kalau hari valentine itu dimaknai dengan memberi. Iya, memberi ucapan disertai dengan kartu dan berbagai jenis hadiah, itu mah biasa.

Yang luar biasa adalah kalau yang diberikan itu adalah pengorbanan.

Asyik, ndak? #Uhuy :p 

Sudah, ah. 

Ini sekadar iseng-iseng belaka saja sambil menunggu proses rendering editing video yang 'lambreta lamborgini' belum selesai juga dari sore tadi sampai tulisan ini kelar, hiks... :(

Oiya, met nikmati hari Valentine, yah hehe..


Ciao!


-PO-

*TengahMalamJelangHariBaru

2/1/25

Pejabat

Ilustrasi: Koleksi pribadi :)


Apa yah enaknya menjadi pejabat???

Sudah, itu saja.

Mari kita tidur (lagi) :)

Zzz...zz..z.

Ciao!


PO
020225
03:09am

1/23/25

Sesat Pikir

Taken from: https://www.health.harvard.edu/blog/careful-health-news-headlines-can-be-deceiving-202111122636

Malam ini galau berat, euy.


Gegaranya terdampak narasi kuat di media sosial yang mengatakan bahwa jumlah representasi bangsa Indonesia di institusi pendidikan tinggi luar negeri (tepatnya negara-negara adikuasa) sangat minim dibandingkan negara lain, wabilkhusus serumpun Asia: China, India, Vietnam, dkk.


S-W-G-L???


So - What - Gitu - Loh???


Memangnya kenapa kalau hanya sedikit anak bangsa yang kuliah di kampus luar negeri (ternama)?


Apakah ada data yang mendukung bahwa dengan jumlah lulusan pendidikan tinggi luar negeri akan memajukan negara Indonesia?


Saya MERAGUKAN itu!!!


Musababnya, data justru menyatakan bahwa pendidikan usia dini lah yang sejatinya memainkan peran sangat signifikan dalam membentuk dan membangun karakter seseorang (dan bangsa), yang sangat dibutuhkan untuk menjadikan sebuah negara bisa maju.


Bahasa kerennya: Early childhood education adalah kunci bagi seseorang terbentuk sebagai pribadi yang beretika, bermoral, dan bijaksana.


Sungguh, saya sangat mengamini itu dan berusaha untuk selalu menempatkan pendidikan usia dini sebagai kerangka berpikir (framework) yang sangat efektif dan efisien dalam meraih visi cemerlang di masa depan.


Kerangka berpikir ini pula yang kemudian menjadi refleksi kenapa banyak fakta menunjukkan bahwa kualitas lulusan luar negeri di Indonesia cenderung tidak memberikan dampak signifikan dalam majunya bangsa secara umum.


Malah, di satu-dua kasus, ada gelagat lulusan kampus luar negeri ketika kembali di Indonesia bersikap alias memliki attitude yang tidak bermoral.


Ya, salah satu contohnya adalah penarasi sesat pikir seperti paparan di awal tulisan ini. 


Eh, omon-omon, orang yang menarasikan itu lulusan KAMPUS luar negeri atau SEKOLAH (pendidikan usia dini) luar negeri, yah? hehe..


Pantesan ajaaa... ;)


Ciao!


PO

12/3/24

Pada sebuah rintik hujan..

Foto koleksi pribadi xixixi..

Seandainya tadi siang (03/12/24) gerimis hujan tak menyapa kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara, bisa jadi Ogut 'kebobolan' kesempatan icip kenikmatan hakiki: Makan bakso gepeng ala Amung, di pinggir jalan Mangga Dua (antara stasiun kereta Jakarta Kota dan ITC Mangga Dua).


Dan,..langit mendung nan muram durja seketika berubah menjadi ceria nan mengenyangkan hahaha..


Ciao!


-PO-

*MeresapiSisaKenikmatanBaksoGepengAmungPlusTahuIsiSapiPorsiJumboLengkapDenganBihunnya ;)

11/9/24

Trump, Prabowo dan YouTube

Sumber gambar: https://www.wartamu.id/sejarah-berdirinya-youtube/#google_vignette


Dunia baru saja memiliki pemimpin baru. Namanya Donald J. Trump. Loh, kok dunia? Ini agak menyederhanakan! Tenang, selama mata uang dollar Amerika masih menjadi barometer perdagangan dunia, maka rasanya, rasanya terlalu naif jika kita enggan mengakui kedigdayaan negara paman Sam itu.


Indonesia juga belum lama memiliki pemimpin baru. Hanya hitungan bulan saja kok selisihnya. Bapak Jenderal (Purn) Prabowo Subianto namanya. Baru saja dilantik sebagai presiden Indonesia ke-8 untuk periode 2024 - 2029.


Tapi, ada satu hal yang menarik. Ke-duanya memiliki kesamaan yang unik, khususnya dalam konteks masa kampanye menuju kursi kepresidenan tersebut. Beliau berdua sama-sama tampil di YouTube dengan berpartisipasi dalam sebuah acara program podcast ala YouTube. Kalau Bapak Prabowo tampil bersama podcast-er Deddy Corbuzier, Presiden Trump tampil di podcast show Joe Rogan. Oiya, para podcaster itu adalah persona dengan jumlah penonton podcast terbanyak di masing-masing negara.


S-W-G-L?!

So - What - Gitu - Loh?!


Di situ saya resah. Ada apa dengan fenomena YouTube ini?


Segitu dulu aja, yah..


Anggap aja ini berbagi keresahan semata. Soal, jawaban dari pertanyaan itu, nanti kita cari hari baiknya dulu sambil mengingat kata orangtua: Bukankah orang sabar disayang Tuhan? hehe..


Ciao!


-PO-

#SelamatHariMingguSemua!

*101124 ; 11:00am.

10/21/24

Bersabar adalah Koentji

Sumber foto: https://www.voltageleadershipconsulting.com/blog/tag/Patience



Hari ini bertemu kawan lama. Mari kita sebut saja namanya si Kumbang. Sebab dia seorang laki-laki. Kalau dia seorang perempuan, ada baiknya kita sebut dia dengan sebutan Bunga. Senyum dulu, dong...Hehehe

Kita bicara cukup lama. Dari siang hari hingga larut malam. Berdua saja. Dan hanya ditemani dengan panganan seadanya. Mungkin ini yang disebut kawan sejati: 'Hanya' makan mi ayam 'gerobagan' di pinggir jalan plus teh botol dingin, tidak mengurangi keriaan bercengkerama hingga berjam-jam lamanya. Atau jangan-jangan beginilah seharusnya yang namanya berteman itu, bicara dengan rasa riang gembira meluputkan perhatian dari kemewahan suasana dan perintilan pengikutnya. 

Oiya, saya dan si Kumbang bercengkerama di warung pinggir jalan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Tentu saja jauh dari kata kemewahan apalagi kekinian (baca: Instagramable tempat nongkrongnya xoxoxoxo).

Nah, yang menjadi topik utama perbincangan kita adalah masalah personal. Tepatnya, cerita berkisar seputar isi hati dan pikiran saya. Yah, singkatnya saya bicara PELACUR aka Pelan-pelan curhat! #Ea...

Semua ditumpahkan. Semua dikeluarkan. Bahkan untuk bayar mi ayam dan teman-temannya, saya juga yang mengeluarkan isi dompet demi 'mengamankan' perbincangan kita tadi..Maklum, namanya totalitas, yah memang begitulah seyogyanya #Uhuy :p

Tapi Kumbang ini memang kawan yang sejati. Bukan hanya menjadi pendengar yang baik dari cerita saya, tapi juga memberikan respon yang brilian. Setiap tanggapannya tidak menggurui alias sok tahu atawa sotoy, kalau kata anak jaman sekarang hehe..

Kumbang lebih banyak memberi komentar dengan cara berempati. Tidak pula menasehati macam orang-orang tua atau yang berlagak tua (baca: Ketuaan :p).

Satu hal yang menarik dari seluruh tanggapan dia adalah kemampuan dia dalam memberikan gambaran besar atas semua cerita saya tadi. Kerennya dia mampu memberikan big picture atas keresahan saya. Dan untuk itu, dia menyarankan dengan sangat saya untuk memiliki tingkat kesabaran yang lebih tinggi lagi. Katanya: Brur, GnR tuh udah dari tahun '88 ingetin semua orang termasuk kite kalau hidup ini harus bersabar dalam menghadapi segala sesuatu. Nah sekarang di taon 2024 lu diingetin lagi, baeknya kalo lu ada harapan, sabar aje sebab semua indah pada waktunya..'

Saya terhenyak. Bukan apa-apa. Saya mau ketawa terbahak-bahak, tapi takut dosa.. Aya aya wae kawan saya itu.

Ciao!

PO
*Thanks berat brur, lau udah mau dengerin 'Pelacur' Ogut tadi..Yuk lah kita dengerin lagi lagunya GnR yang Patience ituh hehe






10/1/24

Hope is good!

Apa yang paling berharga dalam hidup ini?


Ndak usah dijawab juga hehe..

Sumber foto: https://mahaiwe.org/event/the-shawshank-redemption-1994-2/


Kalau kata tokoh pemeran utama film The Shawshank Redemption, hanya satu jawabnya: 

Hope! Because,..hope is good!


Dan, Ogut setuju sekali dengan itu. 


Oiya, filmnya juga bagus sekali loh..


Tonton deh hehe..


Ciao!


PO

*DariSudutKamarPasarMingguYangMulaiBertarungSengitDenganKomplotanNyamukGenit :(

9/18/24

Mau nulis apa, ya???

Sumber ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/illustration-sketch-of-confused-man--557320522643936907/



Banyak sekali yang berkelindan di dalam benak malam ini.


Revisi jurnal yang tak kunjung rampung;

Harap-harap cemas akan harapan (indah);

Keinginan mau nulis indah;

Cacing-cacing perut yang terasa mulai memainkan lagu lama dengan nada dasar Do = L (apar);

Sampai pikiran atas teks teman di Palangkaraya: "Rindu sama Vimvinan";

Duh,..benar-benar bingung mau nulis apa sebenarnya Ogut ini?


Ciao!


-PO-

*190924; 00.18am

**DariSudutKamarPasarMingguSambilMeratapiPergelanganKakiYangSecaraAjaibSakitTakTerperiHiks

***JugaSambilMeresapiTernyataOgutSudahSetahunLohResmiMenyandangGelarTertinggiDiJagatRayaIniSebagaiPhD ;) 

8/19/24

Sukacita

 Hatiku, bersukacitalah!


Bersukacitalah..


Bersukacitalah..


-PO-


*200824; 0457pm

8/12/24

Kehendak

Sumber foto: https://familyradio316.com/the-power-of-a-vision-vision-and-desire/ 


Tersiar kabar, ada peristiwa mengejutkan terjadi di dunia politik Indonesia. Seorang tokoh partai besar tiba-tiba saja undur diri dari posisinya. Menjadi mengejutkan karena kemunculan peristiwa ini relatif tidak terduga sebelumnya. 


Lalu muncullah pertanyaan. Apa penyebab peristiwa itu? "Ini demi keutuhan partai". Begitu jelas sang tokoh tersebut. Dan, selayaknya manusia yang sejatinya penuh dengan tanda tanya, pertanyaan lain pun seolah tak terelakkan: "Apakah itu kehendak sang tokoh atau ada faktor lain yang berperan di sana?"


Aha! Soal kehendak menjadi utama.


Siapa tahu kehendak sang tokoh itu sesungguhnya? Tentu saja dia sendiri yang paling tahu. Habis waktu dan energi mencoba berspekulasi. Sebab, peristiwa itu sudah terjadi dan Tuhan menghendaki itu!


Lagi dan lagi! Kehendak jadi soalnya. Kali ini nama Tuhan disebut. Saya mencoba untuk tidak melibatkan Tuhan. Tapi, apa daya. Tuhan memang terlalu MAHA dan KUASA. Mustahil rasanya menghindar dari kehendak-Nya.


Tuh, kan?! Kehendak lagi...kehendak lagi yang jadi perkara. Kalau Tuhan yang berkehendak, siapa bisa melawan?


Saya amini itu! Kalau Tuhan sudah berkehendak, apapun akan terjadi!


Tetiba, saya tertarik berefleksi. Banyak yang telah saya capai (juga yang tidak dicapai atau bahkan akan). Apakah itu semua artinya kehendak saya yang mewujudnyata? Ingin rasanya mengaku, iya. Tapi saya coba lebih jauh lagi mengingat-ingat. Ternyata, itu semua adalah KEHENDAK TUHAN YANG JADI! (melalui peluang dan kemampuan yang muncul seolah begitu saja, padahal Tuhan sudah merenda itu semua untuk menjadi nyata).


Dan, tenanglah kini hati saya, bahwa untuk memahami segala peristiwa yang terjadi bisa dimaknai dari pengakuan Tuhan yang punya kehendak (untuk itu semua terjadi). 


Pun demikian dengan hari esok. Sungguh sepantasnya dan selayaknya saya mengatakan kembali (paling ndak kepada diri sendiri):   

Tuhan, biarlah KEHENDAK-MU yang jadi, bukan kehendak-ku!


Ciao!


-PO-

*120824; 11.50pm



7/17/24

Sang Pembeda

Kover buku karya JD Vance. Diambil dari https://www.amazon.com.au/Hillbilly-Elegy-J-D-Vance/dp/0062300547
 


Tulisan ini ditulis tengah malam. Penuh kegelisahan, hasrat dan semangat (saya mencoba mencari padanan kata yang tepat dari COURAGE di dalam bahasa Inggris tapi yang terlintas adalah semangat itu). Tapi, di sisi lain, kondisi fisik dan mental teramat sangat lelah. Maka, harap maklum kalau secara struktur tata kalimat seharusnya tulisan ini jauh lebih bisa menemukan keindahan dan makna yang lebih bernilai. Utamanya soal koherensi antar-kalimat.


Ah, terbaca seperti terlalu panjang untuk sebuah pengantar tulisan. Tapi, inilah namanya pembeda. Tulisan yang berbeda tapi dengan keterangan yang menyerta. Harapannya, kejelasan masih tampak di sana.


Bicara soal pembeda, sebenarnya saya ingin bertutur soal sosok. Namanya JD Vance. Dia adalah politisi muda (kelahiran tahun 1984) yang dipilih secara resmi sebagai calon wakil presiden Amerika Serikat mendampingi Donald Trump, sang calon presiden. Dahsyat, bukan?! Iya dong?! Terlalu sekali kalian kalau tidak melihat Vance dari sisi usia sebagai sebuah fenomena yang dahsyat. Wakil presiden negara adikuasa dunia, loh?!


Soal biografi, atau bahkan latar belakang lengkap Vance, monggo dibaca sendiri di banyak referensi di dunia maya. Seperti yang saya katakan di awal, malam dinihari ini saya sedang sangat lelah tapi ingin sekali menuliskan isi otak ini. Satu hal yang menjadi pusat perhatian saya adalah bukan hanya usia Vance yang masih sangat relatif muda untuk menjadi pemimpin negara adidaya, tetapi alasan terpilihnya Vance menjadi sesuatu pembeda dari yang ada (dan pastinya yang pernah ada).


Ah, saya suka sekali dengan terminologi pembeda ini. Sebab, secara konseptual, pembeda ini dalam perspektif ilmu komunikasi (yang selama ini menjadi bidang yang saya geluti dan nikmati-bukan hanya kuasai karena sejatinya ilmu komunkasi adalah sekumpulan tips kehidupan dalam menjalin hubungan baik dengan sesesama manusia demi mencapai harmoni-ini juga saya pilih sebagai adopsi kata Indonesia terbaik dari bahasa Inggris, yaitu mutual understanding). Pembeda itu sejatinya erat kaitannya dengan konsep penanda, yang dalam bahasa Inggris lagi disebut sebagai signifier.


Dan, menurut BBC.com salah satu alasan terpilihnya Vance sebagai VP Donald Trump adalah Hillbilly Elegy. Vance menulis memoar dalam judul tersebut dan menjadi fenomenal alias terkenal, termasuk setelah buku itu-yang terbit pada 2016-menjadi serial netflix pada 2020. Ternyata, sosok Vance dengan karya itu menjadi poin yang signifikan yang mampu menutup lubang yang Trump rasakan dalam perebutan kekuasaannya kembali di tahta gedung putih tahun 2024 ini.


Masih ada lagi! Satu hal yang menjadi unsur kunci pembeda Vance adalah kalimat pembuka dari buku tersebut. Intinya-saya parafrase dengan terjemahan bebas bahasa Indonesia-bahwa Vance merasa dirinya adalah orang biasa. Meski dia lulusan fakultas Hukum Yale University-sebagai salah satu kampus terbaik dunia, tapi tetap itu adalah biasa saja. Sebab, sekitar 200 orang juga lulus dari kampus itu setiap tahunnya. Jadi, apa yang beda dong kalau begitu? (Sebagai catatan, kemampuan untuk melabelkan bahwa lulus Yale Uni hanya dengan selembar bukti ijasah adalah sesuatu yang biasa merupakan kemampuan tersendiri yang menjadi pembeda kelas pribadi Vance dari yang lainnya, dan saya sangat suka dengan ini, bahkan cenderung telah menerapkannya dalam beberapa konteks kehidupan). 


Nah, di titik itulah, Vance memutuskan untuk menulis Hillbilly Elegy ini sebagai pembeda dirinya baik secara kualitas maupun kuantitas. Di mana, buku ini adalah cerita non-fiksi alias memoar yang sepenuhnya bertutur tentang dirinya dan masa lalunya, dengan mengambil sudut pandang cerita keluarganya sebagai imigran keturuan Irlandia yang miskin dan penuh dengan masalah sosial. 


Dahsyat, kan?!


Saya pikir, kita bisa sependapat soal kedahsyatan ini. Yah, meski selalu ada ruang untuk berbeda pandangan. tetapi, toh kalau ketemu, masih bisa ngopi bareng duns?! hehe..  


Omong-omong, karya pembeda Vance ini ditulis tahun 2016 saat dia masih berusia 31 tahun. Dan, 4 tahun berselang, serial Netflix dengan judul yang sama mengudara. Siapa nyana, pada 2024 ini, JD Vance dipilih menjadi calon Wakil Presiden Amerika Serikat mendampingi Donald Trump, yang sangat berpotensi besar menang pemilu, terlebih karena mendapatkan simpati luar biasa akibat menjadi korban penembakan beberapa hari yang lalu.


Dan, omong-omong lagi, saya juga sudah nulis buku loh. Bukan memoar, tapi novel. Apakah itu juga bisa menjadi pembeda? Maksudnya pembeda yang dua kali empat tahun berikutnya akan berbuah sesuatu yang dahsyat seperti yang dinikmati oleh Vance?


Entahlah!


Sudah ngantuk, euy...


Sudah dulu yah..


Ciao!


-PO-

01.47am; 180724