3/8/11

'Kayak udah ada yang ngatur aja...'


08.35 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Begitu kira-kira raungan sirena mobil pengawal yang terdengar dari kejauhan..



Dan...

teeeett...teeettt..teett....ngiung..ngiung..ngiung...

Raungan itu semakin menggelegar dengan diiringi sahutan klakson yang tak henti-henti sambung menyambung.



Hanya butuh dua menit-an saja sang pilot-begitu saya biasa menyapa penyupir mobil yang saya tumpangi-mengambil keputusan untuk tidak langsung menepi dan mempersilakan rombongan mobil bersirene tadi melengos, melainkan menempel ketat iring-iringan dua mobil tadi (satu mobil Mercedes-Benz S Class warna abu-abu metalik dengan no pol B 36 dan satu mobill Toyota Landcruiser hitam berplat polisi: B1499RFS).



'Wuah..ini mobil pada mau kemana ya??? kayaknya sih ke istana nih..'kata sang pilot di tengah konsentrasinya mengendarai mobil operasional kantor untuk tetap berada tepat di belakang rombongan tadi.



'..boleh..boleh..hajar aja...'sahut saya.



'..Iya nih..kayaknya ke istana deh..'



"...semoga aje.."timpal saya sekenanya sebab saya tidak terlalu berharap agar bisa tiba di tujuan, yaitu istana negara dengan tergesa-gesa.



Ternyata benar! Iring-iringan memang searah dengan kami. Hanya saja, mereka masuk lewat pintu depan istana dan kami masih harus menempuh beberapa ratus meter lagi untuk masuk istana. Maklum, pintu masuk bagi yang bukan pejabat negara hanya boleh lewat Jalan Harmoni.



15.45 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Lagi! Terdengar raungan sirena mobil pengawal dari kejauhan..



'..wuahh..ada mobil voorijder lagi neh...asiiikkkk...kita ikutin lagi yak..'celoteh sang pilot.



'...hehehe..boleh..boleh..'tanggap saya sambil tertawa renyah.



'...eh..itukan mobil yang tadi pagi lagi..' timpal sang Pilot kemudian



'..masak sih??'



'..iya..gua ingat banget mobilnya tuh mersi..plat nomornya juga sama tuh...36..' argumen si pilot mencoba meyakinkan.



'..oh bagus itu...'



'...hehee..ini rejeki lu tuh...kayak udah ada yang ngatur aja..' seringai si pilot sambil melirik saya dari kaca spion tengah mobil. Dan kamipun tiba kembali di kantor lebih cepat dari biasanya. Bahkan lebih cepat 30 menit!





01.03 WIB

ssssssssssshhhh..........

Semilir suara mesin pendingin ruangan kamar saya malam ini.



Memang, tidak ada lagi suara sirene yang bergaung. Tapi suasana tadi pagi hingga sore itu masih membekas di benak saya.



Ya, saya tidak meminta secara khusus untuk apa yang saya alami hari itu, tapi malah sebaliknya. Saya mendapat yang terbaik.



Setidaknya ada dua hal terbaik yang saya peroleh: pertama, tidak kena macet jalanan ibukota yang hampir tiap jam dan tiap harinya macet-pada akhirnya sangat menguras energi dan pikiran. Kedua, mendapat kejutan yang minimal mampu membuat saya dan sang supir tersenyum di tengah carut marutnya kondisi jalanan Jakarta.



Namun, benarkah seperti sang supir tadi katakan bahwa semua sudah ada yang mengatur???

hmmmmm....







-PO-

darikeremangansudutkamar

01.18 WIB
090311


*Note: 'At any rate, I am convinced that He [God] does not play dice.' (Albert Einstein)

2/6/11

I Wanna Be Like Gayus Instead of Be Like Mike (Jordan)

“..Andai ku Gayus Tambunan..

yang bisa pergi ke Bali..

Semua keingininannya..

pasti bisa terpenuhi..”
( Bona Paputungan)






Di suatu malam setiba di rumah, saya melakukan ritual yang sangat wajib: ambil remote control tivi lalu menyalakannya. Saat itu, tidak ada preferensi acara tertentu atau bahkan stasiun televisi tertentu yang mau saya tonton. Wong namanya saja ritual, ya.. semua sekenanya saja. Tidak perduli apa yang tersiar di tivi tadi, sayapun beranjak ke dapur yang tidak jauh letaknya dari tivi tersebut. Tujuan saya satu. Mengambil segelas air putih untuk melepas dahaga.

Belum juga air di gelas sepenuhnya pindah ke kerongkongan, lamat-lamat saya mendengar lantunan lagu ‘..andai ku Gayus Tambunan…’ Kontan, dengan gelas masih menempel di mulut seraya menghabiskan minuman, saya merapatkan diri kembali ke televisi untuk memastikan lantunan suara yang tadi samar saya dengar.

Ternyata, apa yang saya dengar adalah sebuah video klip lagu dari seseorang yang bernama Bona Paputungan. Di lagu itu iapun berandai-andai menjadi Gayus Tambunan. Pasalnya, “..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi..”begitu alasan Bona dalam lagu berjudul 'Andai Ku Gayus Tambunan'.

Saya terdiam untuk sesaat. Konsentrasipun coba saya tingkatkan untuk memahami adegan demi adegan yang tertayang dalam video klip. Sayangnya, belum sempat habis saya menonton video klip itu, dering telepon membuyarkan segalanya. “Men, cepetan ke lapangan. Anak-anak sudah pada datang nih..”teriak seorang kawan di ujung telepon yang mengingatkan saya bahwa malam itu sejatinya agenda saya bermain bola basket di lapangan dekat rumah. Benar! Saya memang pecinta olah raga basket. Bahkan, saya sudah jatuh cinta sejak kanak-kanak.

Syahdan, saya pun segera berbenah dan bergerak menuju lapangan basket. Tentu saja, saya tidak menyelesaikan tayangan video klip tadi. Dampaknya, mudah ditebak. Sambil berjalan kaki menuju lapangan saya masih juga memikirkan video tersebut. Saya penasaran. Namun anehnya, saya malah terbawa ke dalam sebuah memori masa kecil. Ya, memori dimana saya sangat mengidolakan sesosok yang sejalan dengan hobi saya: bermain bola basket. Siapa lagi kalau bukan Michael Jordan!

Saat itu, tepatnya tahun 90-an, saya sangat mengagumi Jordan. Betapa tidak, Jordan dengan gaya khasnya: Air Jordan, mampu ‘berjalan’ di udara sebelum kemudian menceploskan bola ke dalam keranjang. Jordan juga punya segudang ‘gaya’ memasukkan bola ke dalam keranjang. Sebut saja reverse jam, windmill jam, atau lean jam, yang pada akhirnya membawa si kepala pelontos ini menjadi juara kontes slam dunk NBA tahun ‘87 dan ‘88. Tidak hanya itu, pria keturunan afro-america itu juga turut berperan penting dalam menghantarkan tim-nya, Chicago Bulls, menjuarai 6 kali turnamen bola basket paling bergengsi di dunia: NBA, yaitu tahun ‘91-‘93 dan ‘96-’98 (dikenal juga dengan sebutan double-threepeat).

Kekaguman saya semakin bertambah manakala Michael Jordan akhirnya mendapat ganjaran setimpal dari segudang prestasinya dengan dinobatkan menjadi orang nomor 4 di dunia yang masuk dalam daftar The Wealthiest Black Americans pada tahun 2009 oleh majalah Forbes. Pasalnya, Jordan mengantungi uang sebanyak 525 juta dollar Amerika-dari bermain basket dan bintang iklan beberapa produk.

Itulah sebabnya saya ingin menjadi Michael Jordan! Apalagi setelah menjelang remaja saya ketahui dari biografi-nya ternyata Mike memperoleh kesuksesannya bukan dengan instan. Ya, dia bahkan pernah dicoret dari tim basket di sekolah-nya karena dianggap penampilannya biasa saja. Namun, Jordan bangkit dan terus berlatih tanpa kenal lelah.”Saya memejamkan mata setiap kali saya rasa letih dalam berlatih, dan membayangkan nama saya ada pada ruang penyimpanan (locker room)"ujar Jordan dalam biografinya.

Buah perjuangannya pun mulai terasa. Selain prestasi dan harta yang melimpah tadi, Jordan menjadi ikon yang fenomenal. Dia jadi kekaguman banyak orang, khusus-nya era 90-an. Dalam tulisan kata pengantar buku “How To Be Like Michael Jordan”, Helmy Yahya, sang presenter yang pernah meraih penghargaan Panasonic award, juga mengaku mengidolakan Jordan. Ratusan bahkan ribuan orang mengaku dalam situs pribadi mereka bahwa mereka ingin menjadi seperti Michael Jordan. Dan ini, segera direspon cepat oleh salah satu produk minuman energy dengan menciptakan lagu ‘I wanna be like Mike’.

‘..andai ku Gayus Tambunan..yang bisa pergi ke Bali..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi…’Lantunan salah seorang teman yang sedang melakukan pemanasan dengan menembakkan bola ke keranjang sekejab membuyarkan memori masa kecil saya tadi. ‘Nah itu dia si Jayus Tambunan sudah datang. Woi..cepetan. Mau main nih..’Teriak teman yang lain.

Usai main basket, sayapun bergegas pulang.

Gara-gara diledek dengan panggilan Jayus Tambunan, selama perjalanan pulang saya jadi berpikir tentang sosok Gayus. Kemunculan mantan pegawai kantor pajak yang mulai ramai diperbincangkan dari maret 2010 ini tidak pernah luput dari perhatian masyarakat hingga sekarang. Bahkan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, pernah mengatakan kalau harta kekayaannya bisa mencapai hampir 200 milyar rupiah.

Ya, tidak heran memang. Harta yang sedemikian banyak adalah juga ganjaran ‘prestasi’ Gayus. Sebut saja KPC, Bumi Resources, Arutmin, adalah tiga perusahaan yang merasa berhutang budi karena ‘prestasi’ Gayus dalam membantu mengurus pajak mereka. Dan untuk itu, Gayus menerima hampir 100 Milyar rupiah sebagai imbalannya.

Gayus Tambunan menjadi sosok yang fenomenal sepanjang 2010 di bumi pertiwi ini karena prestasinya yang lain. Ia berhasil mencetak rekor 68 kali keluar masuk penjara meski dalam status sedang ditahan. Lebih dahsyat lagi, ketika keluar dari penjara ia tidak hanya berplesiran ke Bali tapi juga ke luar negeri seperti Macau dan Singapore.

Dus, wajar saja banyak orang memperbincangkan ‘capaian’ Gayus tersebut. Hanya orang yang punya keahlian dan kemampuan khusus yang bisa berbuat demikian. Tidak heran, kemudian, muncul orang yang mengidolakan Gayus Tambunan. Bona Paputungan salah satumya.

Tidak hanya itu, beberapa teman saya di jejaring social Facebook juga menuliskan keinginan mereka supaya bisa seperti alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tersebut. Ujung-ujungnya mereka ingin punya uang banyak di usia yang masih relatif muda: 31 tahun.

Sangking asyiknya pikiran ini berkelana ke soal Gayus, saya jadi seperti tidak sadar kalau ternyata sudah tiba di rumah kembali. Remote tivi pun kembali saya rengguk untuk kemudian menjalankan ritual memasang televisi tanpa preferensi acara tertentu. Sambil asik memencet-mencet tombol remote untuk mencari program yang menarik, saya membatin, “Hmm..kalau dia jadi ditahan 7 tahun penjara, kira-kira akan berplesiran kemana lagi ya…atau malah..dia kapok berplesiran tapi jadi betah di dalam penjara karena ruangannya sudah didesain khusus dengan sejumlah interior seperti kasur empuk, AC, telepon, atau bahkan ruang karoke???” Well, kalau itu yang terjadi saya juga mau jadi Gayus Tambunan. Anda juga?



-PO-

darikeremanganmalam

240111

02:26 WIB

*tulisan ini juga dapat dinikmati pada situs berita Okezone:
http://news.okezone.com/read/2011/03/09/58/432916/gayus-tambunan-versus-michael-jordan

juga bisa disimak di situs Metro Siantar:
http://metrosiantar.com/OPINI/Gayus_Tambunan_Versus_Michael_Jordan

12/30/10

ADVENT 4 (2010)


"..Damai itu indah..."
Ini menjadi kisah penutup rangkaian cerita tentang Advent di tahun 2010. Apalagi kalau bukan NATAL!!!

Hampir bisa dipastikan bahwa seluruh manusia Indonesia yang melek pendidikan tahu, seonggok mahluk apa itu natal. Mulai dari definisi natal itu adalah lahir hingga natal yang dikaitkan dengan hari raya umat kristiani.

Bagi saya sendiri, natal itu damai! Kalau tidak ada kedamaian, maka tidak ada natal. Kalau tidak bisa berdamai, maka tidak bisa ber-natal.

Dan ironisnya...saya melalui beberapa ibadah natal (mulai dari malam natal hingga hari natal) di tahun 2010 ini tapi tetap, saya tidak bisa berdamai!

Selamat Natal bagi Anda yang merayakannya! Semoga bukan seremoni natal yang Anda rayakan, melainkan merayakan dan mensyukuri atas kedamaian yang sejati (termasuk memberi damai bagi orang lain). Tuhan berkati!


*dariterminalharap
00:34 WIB

12/17/10

ADVENT 3 (2010)


"Manusia merencanakan, Tuhan mengecewakan..."


Sejatinya adagium yang lazim dikenal adalah "Manusia merencanakan, Tuhan menentukan..". Namun, sekitar tiga hari lalu, seorang kawan berkelakar dengan saya dan melontarkan pelesetan dari adagium terebut sehingga menjadi apa yang dikutip pada awal tulisan ini.

Saya cukup terusik dengan pelesetan kawan tersebut bahkan hingga dini hari yang sangat amat melelahkan ini. Pasalnya, ada yang kurang sreg rasanya dengan lontaran kalimat dari kawan tadi.

Awalnya, kita saling berguarau di akhir acara pengambilan gambar untuk kepentingan sayembara saya yang berikutnya. Berbeda dengan sayembara yang pernah saya ikuti, kali ini banyak sekali kekurangan dalam proses penyelesaiannya. Mulai dari waktu (saya yang sangat padat) hingga kelengkapan tim untuk menyelesaikan keseluruhan materi sayembara yang telah saya konsepkan. Saat itu, saya sempat gamang. "ah..sudahlah..yang penting gua sudah coba yang terbaik.."

Namun, tak dinyana, sang kawan merespon sambil berkelakar, "Iya..ga apa Mas..Kan manusia merencanakan, Tuhan mengecewakan...hahahaha' Saya pun ikut terbahak-bahak. Pasalnya saat itu saya paham betul si kawan ini berusaha membesarkan hati saya dengan cara guyon. Sebab, saya adalah orang yang sangat suka dengan guyon.

Tapi entah mengapa, kalimat itu terus menerus menghantui malam-malam saya. "Apa iya, Tuhan mengecewakan???" bisik saya dalam hati.

Saat ini, seluruh materi sayembara telah rampung. Mulai dari pre-production hingga post-production berhasil saya tuntaskan meski pengorbanannya harus sampai tidak tidur dua malam berturut-turut. Tidak hanya itu, kehidupan sosial saya juga otomatis menjadi terkikis bahkan terpapas habis.

Tadi siang, saya berkirim email dengan panitia penyelenggara sayembara. Pasalnya, sedianya pengumuman pemenang diumumkan tanggal 16 Desember. Nah, karena siang tadi sudah tanggal 17 Desember saya pun mengonfirmasikannya. "Untuk pengumuman video diundur jadi tanggal 18 Desember. Kita juga telah mencantumkannya di website" tulis sang panitia di email balasan tanpa satu kata maaf pun termaktub atas pengunduran jadwal tersebut.

Gundah! Kata yang bisa mewakili perasaan saya saat ini menanti pengumuman tersebut. Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Kalau di sayembara sebelumnya saya masih bisa mendapatkan 'kisi-kisi' dari teman saya yang bekerja di tempat penyelenggara sayembara itu. Nah, kali ini situasinya amat sangat berbeda: "I'm totally alone ranger!"

Situasi ini, secara kebetulan, berlangsung pada minggu advent ke-3 tahun 2010. Minggu ke-3 dimana saya dan umat Kristus lainnya diharapkan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus dalam perayaan natal ke bumi.

Mempersiapkan diri artinya juga menghilangkan segala keraguan: Tuhan itu ada, hidup, dan mau berkorban demi keselamatan umat-Nya. Nah, di tengah kegundahan ini, saya kembali diingatkan untuk benar-benar berserah menghilangkan segala keraguan yang ada. Bahwa Tuhan itu ada, hidup, dan membawa keselamatan bukanlah sesuatu yang mengecewakan. Ya, bukan suatu hal yang mengecewakan. Pun demikian jika ada pernak-pernik kehidupan yang tidak sesuai dengan yang manusia harapkan, Tuhan tetap ada, hidup dan memberi keselamatan. Artinya, saya dan manusia yang lain juga akan mendapatkan keselamatan meski itu harus melalui sesuatu yang menurut akal manusia berupa ketidaksesuaian dengan harapan.

Sekarang saatnya bagi saya dan Anda mensyukuri tidak hanya atas apa yang telah kita peroleh, namun juga atas apa yang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan?

Selamat menyambut hari advent ke-4. Tuhan berkati!!!



*dariterminalkantuk
02:37 WIB

12/5/10

ADVENT 2 (2010)


"...sembahlah dan pujilah Dia! Raja segala raja! .great sunday everyone.."

Begitulah komentar seorang kawan di halaman dinding facebook-nya hari minggu ini. Selintas, tidak ada yang istimewa dari kalimat tersebut. Apalagi di kancah para pelaku jejaring sosial yang cukup aktif memberi komentar terhadap beragam hal-termasuk hari minggu-maka hal itu bisa jadi juga dilakukan oleh para facebook-er lainnya.

Bagi saya, komentar 10 kalimat tersebut sangat berkesan. Itu sebabnya sayapun tak kuasa menahan jemari ini untuk mengetikkan komentar balasan: "Aih..ngeri kalee status Abang kita kali ini...Lanjutkan lah.."

Bisa jadi Anda akan tambah bingung dengan balasan komentar saya tersebut. Pasalnya, ada kata ngeri dan lanjutkan di sana. Dus, ada baiknya saya bercerita sedikit latar belakang hubungan saya dan kawan yang menuliskan komentar tadi.

Mari kita sebut saja si kawan itu "Kumbang". Sama seperti saya, Kumbang ini juga seorang jurnalis. Hanya, bedanya dia jurnalis media cetak dan berposisi strategis (baca: redaktur) sementara saya jurnalis televisi dan hanya menempati posisi 'kasta terendah'. Saya dan Kumbang berkenalan di sebuah karoke (atau karaoke???). Sudah bisa ditebak. Lagu-lagu yang ditembangkan pun pastinya kisaran lagu sekuler-rock n roll tepatnya. Tidak hanya itu. Dalam setiap keriaan kami (berkaroke bersama teman jurnalis lainnya: semua pria) senantiasa dipandu oleh para wanita yang berparas sensual dan berdandan seronok-tentu saja kualitas suara mereka juga tidak lebih baik dari pedangdut orkes keliling.

Nah, kembali ke komentar tadi. Saya pun terkesan dengan komentar itu manakala pada top of mind saya yang terngiang hanyalah lagu sekuler (tentu dengan nuansa suasana sekuler pula) yang biasa dilagukan oleh sang kawan tadi. Sebagai tambahan informasi, si Kumbang juga mengaku pengikut Kristus.

Saya tidak begitu paham apa latar belakang dari kawan tadi dalam menuliskan komentar tersebut. Pasalnya, saya tidak bertanya lebih jauh kepadanya. Namun yang pasti, kemunculan komentar itu bukan di hari minggu biasa. Tapi minggu ini adalah minggu Advent ke-2 (minggu ke-2 dalam menantikan peringatan lahirnya sang Juruselamat).

Nah, ketika saya menanggapi komentar dengan "ngeri" tadi sejatinya saya agak terkejut. Ternyata, seorang kawan yang saya kenal biasa hanya melantunkan lagu-lagu sekuler juga akrab dengan lagu rohani seperti yang dia tuliskan dalam komentarnya.

Minggu advent 2 di gereja yang saya sambangi tadi pagi bertemakan "Tuhan datang untuk menyelamatkan kita". Secara singkat, benang merah dari masa penantian akan kelahiran itu berujung pada keselamatan manusia. Ya, Tuhan datang ke dunia untuk menyelamatkan. Dan, karena kita telah diselamatkan maka sudah selayaknya kita bersyukur dan berterimakasih.

Hebatnya, dalam komentar sang kawan tadi, menurut saya telah mengejawantahkan rasa syukurnya: "..Sembahlah dan pujilah dia.." Itu juga yang menjadi alasan saya menimpali dengan komentar: "...lanjutkan..."

Sekarang, pujian sudah diangkat. Syukurpun telah dinyatakan. Namun, masa penantian masih terus akan bergulir (ini seiring belum benar-benar datangnya kembali sang Juruselamat ke bumi. Natal, hanyalah menjadi sebuah hari penanda yang diperingati sebagai tonggak kelahiran datangnya sang Juruselamat itu). Sama seperti komentar saya ke Kumbang tadi untuk melanjutkan, maka kini saatnya saya juga harus melanjutkan rasa syukur tersebut.

Selamat menantikan kedatangan Kristus dalam masa advent 3!

Tuhan berkati!


*dariterminalsyukur
02:53 WIB

11/28/10

ADVENT 1 (2010)



Ada yang bilang minggu advent itu minggu penantian. Ya, siapa lagi yang dinanti kalau bukan sang Juruselamat Yesus Kristus. Namun, ada juga yang berpandangan agak berbeda. Advent dimaknai penataan hidup dalam menggapai kelahiran Kristus Yesus. Jadi, kalau mau memperingati kelahiran sang Penebus haruslah lebih dahulu kita menata hidup. Tentu saja, lebih baik seturut dengan kehendaknya.

Dua dari sekian banyak pengertian akan advent itu sejatinya salig melengkapi. Saya sendiri, di malam yang sepi ini tidak mempermasalahkan beragam pengertian advent tersebut. Justru dari semua definisi itu saya lagi-lagi mencoba bertanya kepada diri sendiri. Sudah sejauhmana persiapan diri saya dalam menggapai Natal???

Jangankan menata hidup lebih jauh demi sebuah natal, wong hari sabat ini saja saya tidak mampu untuk meluangkan barang sekitar dua jam untuk bersekutu dengan umat seiman memuji Tuhan dalam ibadah minggu. Saya terlena dalam justifikasi aktualisasi diri menjadi berguna bagi orang lain-yang sangat mungkin sebenarnya apa yang saya lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan karena berupa candu dan bentuk pemuasan diri sendiri.

Cukup??? Belum! Dimana bentuk persiapan menyambut sang sumber kasih manakala hati ini masih juga dipenuhi amarah dan dendam kepada banyak orang. Misal: kepada bos-bos di kantor yang (menurut saya) bertindak semena-mena. Atau bahkan benci bos karena perkataan yang terlontar dari mulutnya sempat menyinggung perasaan. Atau bahkan kepada orang tua sendiri. Ini tak lain dan tak bukan karena sikap arogansi merasa lebih pintar sehingga kerapkali menyalahkan orang tua.

Lebih konyol lagi persiapan menyambut natal demi sebuah kelahiran baru juga dinodai dengan perilaku membicarakan orang lain. Ya, tentu saja lebih banyak bicara mudaratnya daripada sisi positifnya orang tersebut.

Sudah??? Sesungguhnya masih banyak lagi! Namun, di sinilah letak makna advent yang sesungguhnya buat saya secara pribadi: Mau dan mampu membuka diri dan berserah dalam pengasihan Tuhan. Mengapa??? Pastinya agar persiapan menyambut lahirnya Dia yang tentu saja melalui sebuah penataan tadi benar-benar sejalan dengan kehendak Tuhan!

Jadi, menjelang minggu advent dua, saya pun ditantang untuk bersiap menata diri. Bukan hanya menata diri menurut subyektifitas pribadi tapi menata diri dengan membiarkan Tuhan campur tangan dalam proses penataan itu…

Selamat hari advent pertama.

Tuhan berkati!!!




*dariterminalsesal

01:33 WIB

11/27/10

A Man for Others!

00:50 WIB

Mata ini rasanya sudah berat untuk membelalak. Namun, otak berkata lain. Dan, karena sang otak yang pegang kendali tubuh ini, jadilah mata 'sayu' pun berkompromi dengan 'sang dirigen' tubuh untuk terus bisa menatap layar monitor komputer berukuran 17" ini.

Kalau hasrat sedang membara, apa daya pikiran terus berkelana. Dus, jadilah otak tetap bekerja meski sejatinya telah lebih dari 20 jam menguras energi dengan berbagai aktifitas jurnalistik. Penyebabnya satu. Reaksi dua sahabat yang saling bertentangan.

"Walahh loepa! ASLI LUPA, Bro! gwt, mana bsk gw ga k kntr lg..parah..senin dah.." tulis sang sahabat seiman dalam pesan singkatnya lewat henpon, menyikapi permohonan saya yang seyogyanya dijanjikan akan diberikan sore tadi.

Ya, tadi sore saya berbincang-bincang dengan sang sahabat seiman ini via telepon. Tujuannya satu. Saya minta tolong agar dia berkenan membantu saya memberikan contoh berkas proposal untuk pembelajaran saya. "bisa...bisa...gua cari sekarang..nanti sore gua kabari.."jawabnya dari kejauhan via telepon menyanggupi permohonan saya agar dibantu mendapatkan contoh proposal tersebut.

Alih-alih mendapatkan contoh proposal, malah di malam harinya, saya seperti bertepuk sebelah tangan manakala diberitahu via sms seperti di awal tadi yang menyatakan bahwa sang sahabat seiman ini 'gagal' dalam menolong saya. Cukup di situ??? Tunggu dulu! Ketika kami berbincang-bincang di telepon tadi, secara berkelakar sang sahabat seiman ini juga sempat melontarkan guyonan ciri khasnya. "Masak wartawan aja yang dapat amplop...kita juga mau dong dapat amplop..."celetuknya terkait akan permohonan saya tadi. Harapannya, sang sahabat seiman ini diberi imbalan setelah membantu memberikan sesuatu-dalam hal ini contoh berkas proposal.

Saya pun bereaksi. Dan, tawa berderai dari mulut mungil ini seraya berkata, "kalo buat profesional sih boleh boleh aja lu..tapi masak buat pertemanan masih begitu juga??" sang sahabat seiman ini pun menimpali dengan tawa juga.

01:15 WIB

Sekarang, perut saya yang mulai berdericit. Seporsi bubur ayam dengan telor ayam kampung dan keju plus sate ati ampela santapan tadi sore ternyata tak mampu bertahan hingga dini hari ini. Tapi, pikiran saya masih terus berkecamuk.

Sayapun teringat kejadian kemarin malam. Persis tengah malam seperti ini. Saya kecelakaan! Bukan kecelakaan besar memang, tapi cukuplah membuat jemari kiri tangan saya agak lecet. Tidak hanya itu, teman saya yang membonceng saya dengan sepeda motor juga ikut-ikutan cidera. Bahkan ia lebih parah. Selain jari jemarinya yang lecet, dadanya juga ikut memar.

Ya, kemarin malam, motor yang kami tumpangi menabrak mobil. Memang itu salah kami. Pasalnya, kami agak sedikit mabuk pasca minum-minum bir di sebuah kafe di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Parahnya lagi, karena kesalahan ada di pihak kami maka mengganti kerusakan mobil yang kami tabrak tadi pun menjadi sebuah keharusan.

Nah, beruntung saat itu, ada seorang sahabat lain yang juga bersama kami tetapi menggunakan motor yang berbeda. Dengan sigapnya, ia menuju ATM untuk menarik uang tunai sebesar 250 ribu rupiah untuk mengganti lampu belakang mobil yang kami tabrak tadi. "Men...besok..uang lu gua ganti ya..."ucap saya atas tindakannya. Sayapun berjanji mengganti karena saya tahu sahabat yang tak seiman ini sedang dalam kondisi keuangan yang bisa dikatakan pas-pas an. Betapa tidak, mau untuk biaya kawinnya saja-yang akan berlangsung Desember tahun ini-masih belum mencukupi. "Pusing gua Men..catering buat kawinan belon gua bayar euy.."cerita sang sahabat tak seiman ini suatu malam beberapa minggu sebelum kejadian kecelakaan tersebut.

Namun, di tengah 'morat-marit-nya' keuangan sang sahabat tak seiman ini justru ia tanpa pikir panjang menolong saya dan teman saya yang tadi sedang tertimpa musibah.

01:32 WIB

Hoaaaaaammm....Kantuk ini mulai semakin menyiksa. Tapi saya harus bertahan. Pasalnya, saya ingin berbagi. Ya, saya ingin berbagi cerita ini kepada dunia bahwa ada sahabat dengan berbagai macam bentuk. Bentuk yang pertama seperti sang sahabat saya yang seiman tadi. Sementara bentuk lainnya, yaaa...mudah diterka. Tentu saja seperti sang sahabat yang tidak seiman yang terakhir saya ceritakan.

01:35 WIB

Ini harus jadi waktu penanda terakhir saya berbagi kisah. Pasalnya, esok saya harus berjibaku dengan rutinitas pagi. dan, saya pun butuh istirahat yang cukup untuk dapat tetap fit menyongsong rutinitas itu.

Di termin terakhir ini saya teringat sebuah kata bijak: "Only by being a man-or-woman-for-others does one become fully human". Semoga saya tidak salah dalam mengartikannya. Namun, jika diterjemahkan secara bebas, maka hidup manusia itu akan benar-benar BERMAKNA manakala ia berguna bagi orang lain!

Nah, alih-alih memberikan penilaian subyektif terhadap dua sahabat saya tadi, saya malah berusaha menimang-nimang. Kira-kira, sudah sejauh manakah saya mengisi kehidupan ini menjadi lebih bermakna: MENJADI BERGUNA BAGI ORANG LAIN!!!



*dariterminalkasih


Jumat, 26 Nopember 2010

01:48 WIB