7/4/11

..kencinglah sebelum kencing itu dikenai pajak..

Ini petang, malam menjelang. Ritualnya bagi para pekerja (kalau tak mau dikata buruh) pulang kandang. Mulai dari pekerja kantoran gedung mewah sampai ke para burik alias buruh pabrik menyerbu jalanan.


Biasanya kalau sudah begini macet jadi langganan. 'Ah,macetnye gile beneeeeerr..'celoteh kawan di wall facebooknya.

'Mana neh ahlinya..?' Timpal kawan yang lain seolah tidak lengkap rasanya hidup ini kalau tidak bersahut komentar di facebook. 'Udeeeehh boikot aja..kagak usah bayar pajak! Sekian!' Timpal kawan lain.



Komentar kawan yang terakhir bisa jadi masuk akal. Pajak itu sejatinya dibayarkan warga negara kepada pemerintah untuk kemudian dikembalikan bagi kemaslahatan alias kenikmatan warga tadi.

Tapi memang manusia tidak pernah ada puasnya. Sudah dibangunkan jalan mulai dari yang biasa, yang tanpa hambatan, bahkan sampai ke yang melayang, tetap juga tidak puas. 'Gua puas kalo ini macet diurai' kira-kira begitu saya mencoba menerka.



Saya jadi berpikir-pikir kalau begini kenyataannya. 'Meski berhitung dengan masak akan melaksakan kewajiban bayar pajak karena harus terlebih dahulu mengurangi kenikmatan.



Tapi, petang ini alur pikir tadi bisa jadi patah demi kencing. Ups..maksudnya batal demi hukum.

Terlebih ketika saya melihat seorang pemuda (lihat foto di atas) yang tak saya kenal dengan begitu vulgarnya kencing di depan saya. Bahkan, pria itu tak peduli meski bisa saja kemaluaannya-yang katanya paling privat (maaf!) terlihat orang.



Lalu, kenapa dia demikian berani? Bisa jadi dia berpikir kencing itu sejatinya limbah dari metabolisme tubuh tyang harus segera dibuang. Atau malah dia juga berpikir seperti saya..'Mending gua kencing sekarang mumpung belum dikenai pajak...'



Teng nong..teng nong..teng nong..teng nong..



'Perhatikan..jalur 3. Akan melintas KRL dari selatan menuju Jakarta-Kota..'



'Wuah kereta saya tuh...sudah dulu ya...malu kalau harus pegang-pegang BB apalagi facebook-an di kereta (kelas kambing soalnya..heuheuheu)'





*daristasiunkeretapasarminggu

18.15 WIB



-PO-

**foto: koleksi pribadi yang diambil secara candid dengan kamera henpon dari jarak satu setengah meter dari si subjek (04/07)

5/18/11

Prison and Paradise, Sebuah Film tanpa Cerita




“..Pembahasan soal stigmatisasi ini ada di luar film..”






Kalau ada orang yang mau merelakan waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan uangnya untuk menonton film, hampir bisa dipastikan itu karena ada cerita film yang jadi daya pikatnya. Memang, tidak harus selamanya begitu. Bisa saja ada alasan lain. Sang tokoh pemeran film yang sangat menarik, juga bisa jadi alibi. Atau mungkin karena keterpaksaan. Semisal, bagi pelajar atau mahasiswa yang ketiban sial harus menonton film tertentu karena sang guru atau dosen bertitah demikian, maka itu bisa jadi keharusan bagi mereka.

Namun yang menarik adalah bagaimana jika ada seorang sutradara film atau pembuat film, yang membuat film itu bukan karena ingin bercerita tapi malah ingin berwacana?

Nah, Daniel Rudi Haryanto adalah orangnya. Pria lulusan Institut Kesenian Jakarta ini mengaku membuat film Prison and Paradise untuk sebuah diskursus. ‘Kita tidak sedang bikin film cerita. Kita bikin diskursus..’ jelasnya dalam sebuah sesi diskusi di acara pemutaran film Prison and Paradise di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Ya, Rabu malam (18/5), AJI Jakarta menghelat pemutaran perdana film dokumenter Prison and Paradise. Dengan beralaskan tikar dan berpenganan ubi dan kacang rebus serta bajigur hangat, sekitar 15 orang terpaku pada layar proyektor 185 x 185 cm. Mereka tampak serius memperhatikan adegan demi adegan dari para pelaku terorisme: Imam Samudera, Amrozy, Ali Gufron. Ada juga gambar para isteri dan anak dari para pelaku bom bali tahun 2002 tersebut.

Tidak hanya itu. film yang berdurasi sekitar 90 menit tersebut juga menampilkan Noor Huda Ismail. Bahkan, hampir tiga per empat dari film adalah tuturan kisah Noor Huda. Dus, tidak heran memang. Pasalnya, film yang menampilkan pemikiran-pemikiran para teroris itu dibuat berdasarkan buku novel karangan Noor Huda Ismail yang berjudul ‘Temanku Teroris?’

Bagi sebagian orang yang mencintai film dokumenter mainstream, bisa jadi film yang dibuat selama tujuh tahun itu sangat tidak menarik dan membosankan. Sudah gambarnya didominasi berbagai adegan ‘gempa bumi’ alias potongan adegan yang tertayang bergoyang dengan tidak teratur-yang pada gilirannya mengganggu kenyamanan mata dalam menonton, lompatan dari satu sekuen adegan ke sekuen lainnya pun terasa amat kasar kalau tidak mau dikatakan jumping atau jump cut alias tidak runut secara logika gambar.

Simak saja di setiap wawancara yang tertayang. Dari seluruh wawancara-dominasi adegan film adalah wawancara-hanya wawancara dengan Ali Gufron ketika dia di dalam penjara yang relatif nyaman ditonton. Pasalnya gambar diambil dengan kamera yang menggunakan tiang penyanggah atau tripod. ‘Iya, itu ku ambil pakai tripod,’ kata Daniel, sang sutradara, di tengah-tengah pemutaran filmnya tersebut.

Namun, berbagai ketidaknyamanan tersebut masih tetap dapat apresiasi oleh para penonton yang didominasi para jurnalis dan sekelompok mahasiswa dari lembaga pers mahasiswa (LPM) universitas Bakrie. ‘Ini film yang luar biasa. Saya salut!’ komentar Budhi Yanto dari LPM universitas Bakrie setelah pemutaran film.

Cukup di situ? Tidak! Film yang digarap dengan menghabiskan waktu wawancara selama sekitar 14 jam dan menggunakan jumlah total kaset 50 buah tersebut layak diacungi jempol. Pasalnya, kemampuan Daniel, sang pembuat film, dalam meraih kepercayaan baik dari para teroris juga anak-istrinya untuk diambil gambar aktivitasnya dan diwawancarai sangat menakjubkan.

Hasilnya pun dahsyat! Kalau biasa kita melihat Amrozi cs. hanya di televisi-ketika digiring ke mobil tahanan atau dari dan ke dalam ruang sidang-tentu saja dengan teriakan khas ‘Allahuakbar’, maka yang terjadi di film pemenang Festival Film Dokumenter ini justru sebaliknya. Para pelaku bom Bali yang menewaskan 202 orang itu bertutur dengan sangat terstruktur tanpa sepatah katapun memekikkan takbir. ‘Saya juga pernah punya istri, juga pernah rasa malam pertama. Tapi tidak senikmat ketika perang,’kata Ali Gufron dari dalam sel nya di Bali.

Lain lagi kisah yang dituturkan oleh Mubarok. Ia punya justifikasi tersendiri terhadap aksi mematikannya tersebut. ‘Teroris itu menuju surga, yang lain menuju neraka,’ celotehnya dari balik jeruji besi. Sementara Amrozi dan Imam Samudera menjelaskan bahwa mereka sadar betul akan apa yang mereka lakukan, yaitu semata-mata karena jihad membela agama.’Ya..kan banyak juga orang kafir di sana yang mati. Ya kalau ada orang Islam yang juga mati..ya..biar itu jadi urusan saya dan Allah saja nanti..’kata Imam Samudera dengan berapi-api.

Sejatinya, film ini diniatkan untuk menghalau stigma yang berkembang pasca bom Bali 2002. Ya, Daniel dan timnya bermaksud mengurangi dampak buruk yang dirasakan oleh para isteri dan anak dari pelaku teror tersebut. Mulai dari celaan warga sekitar tempat tinggal mereka (hingga mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal hingga 7 kali) sampai kepada cibiran dari teman-teman sekolah Asma Azzahra, Oonita dan Azzah Rohidah-putri-putri para pelaku terpidana mati. Sayangnya, hingga adegan penutup film dokumenter ini, tidak tampak asosiasi dari stigma tersebut. Alasannya satu. ‘Kita melihat subjek kita beda..’jelas Daniel menanggapi kesan kaburnya tujuan utama penampilan stigma terhadap korban pelaku pengeboman.



dariterminalkantuk

-PO-
05:34 WIB
*Image courtesy of www.MediaIndependen.com

4/7/11

‘…I am appealing the verdict…’


What do you think about the word 'appeal'? Do you think of it as an attractiveness, which is related to the emotion? Or perhaps you would relate it to a terminology in law by which "to appeal" means to ask for higher or lower verdict from the higher court, after a decision has been delivered by the lower court? Or probably you have different understanding of the word?

Indeed, appeal can have so many meanings. However, I personally see the word "appeal" as something related to a love story.

And here is how the love story goes…

Yesterday, I had lunch with a friend from the college days near his office on Jalan Dharmawangsa, South Jakarta. It happened accidentally as my friend and I did not plan to have that lunch before.

However, it went like the usual. We asked each other our life stories. Starting from the classic ‘how are you doing’ up to the plan of having a permanent couple. Indeed, we are both still single and at the age considered to be ‘obligated’ to marry a woman.

‘So, how’s your plan? When will you marry?" My friend asked me when we were having the same meal: Soto Ayam - it's a kind of spicy chicken soup popular in Indonesia - at Warung Soto Ayam, a traditional Indonesian-style food stall.

‘…holy macaroni...marriage? c’mon bro..how could I dare to step over you, to marry while your self has not married yet..’ I replied jokingly. Indeed, he - let’s call my friend as ‘the beetle’ - is actually my senior at college. He is two years older than me.

‘hahaaha..you’re always joking with me, buddy!’ he replied.

‘..hahaha..’I replied. ‘c’mon pal, you seem more ready than me. By the way, you already have a candidate, haven’t you?’

‘That’s the problem Pir..! I am appealing the verdict!!!’


‘What do you mean by that?’ I tried to figure out.

‘Yes, I don’t wanna to be in this situation. I want to change it!’ he tried to explain.

This gentleman is currently having a closed-relationship with a woman that he actually likes. However, it is not exactly going as he plans.

My friend told me that he once went to his girlfriend’s house in Malang, East Java. He did not just meet his girlfriend, but also her girlfriend’s father. Then, everything seemed like the usual date. Nothing special happened, indeed! However, at the end of the visit, his girlfriend’s father gave him a gift. ‘Here, please bring these apples when you go back home. And also please give this to your parents. Also, please send my best regards to them..’ his girlfriend’s father told my friend while giving him a bucket full of apples.

‘I have no problem at all with that until he called me and asked whether or not I already gave the apples to my parents by the time I arrived home,’ he explained.


‘..c’mon bro…that’s pretty common I guess..he is your girlfriend’s father, right?! So what’s the big deal?’ I replied.

‘The problem is..I just met my girlfriend’s father once. Even more, it was also the first meeting for me and my girlfriend..’ He replied.

‘So, are you saying that you just knew them there and you fell awkward with their treatment?’ I tried to figure out.


“Indeed, pal!’ he answered. ‘It seemed quite ridiculous when my parents suggested me to propose her as soon as possible.’

‘Why ridiculous, dude?’ I answered. ‘That’s good, right? As you guys are already in love one to each other..’

‘That’s why I am appealing the verdict, because both of us haven’t expressed our love explicitly!’ he replied as he finished the soto ayam.


-PO-
080411
04:09 AM
*Image courtesy of http://bmc277.blogspot.com/

3/8/11

'Kayak udah ada yang ngatur aja...'


08.35 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Begitu kira-kira raungan sirena mobil pengawal yang terdengar dari kejauhan..



Dan...

teeeett...teeettt..teett....ngiung..ngiung..ngiung...

Raungan itu semakin menggelegar dengan diiringi sahutan klakson yang tak henti-henti sambung menyambung.



Hanya butuh dua menit-an saja sang pilot-begitu saya biasa menyapa penyupir mobil yang saya tumpangi-mengambil keputusan untuk tidak langsung menepi dan mempersilakan rombongan mobil bersirene tadi melengos, melainkan menempel ketat iring-iringan dua mobil tadi (satu mobil Mercedes-Benz S Class warna abu-abu metalik dengan no pol B 36 dan satu mobill Toyota Landcruiser hitam berplat polisi: B1499RFS).



'Wuah..ini mobil pada mau kemana ya??? kayaknya sih ke istana nih..'kata sang pilot di tengah konsentrasinya mengendarai mobil operasional kantor untuk tetap berada tepat di belakang rombongan tadi.



'..boleh..boleh..hajar aja...'sahut saya.



'..Iya nih..kayaknya ke istana deh..'



"...semoga aje.."timpal saya sekenanya sebab saya tidak terlalu berharap agar bisa tiba di tujuan, yaitu istana negara dengan tergesa-gesa.



Ternyata benar! Iring-iringan memang searah dengan kami. Hanya saja, mereka masuk lewat pintu depan istana dan kami masih harus menempuh beberapa ratus meter lagi untuk masuk istana. Maklum, pintu masuk bagi yang bukan pejabat negara hanya boleh lewat Jalan Harmoni.



15.45 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Lagi! Terdengar raungan sirena mobil pengawal dari kejauhan..



'..wuahh..ada mobil voorijder lagi neh...asiiikkkk...kita ikutin lagi yak..'celoteh sang pilot.



'...hehehe..boleh..boleh..'tanggap saya sambil tertawa renyah.



'...eh..itukan mobil yang tadi pagi lagi..' timpal sang Pilot kemudian



'..masak sih??'



'..iya..gua ingat banget mobilnya tuh mersi..plat nomornya juga sama tuh...36..' argumen si pilot mencoba meyakinkan.



'..oh bagus itu...'



'...hehee..ini rejeki lu tuh...kayak udah ada yang ngatur aja..' seringai si pilot sambil melirik saya dari kaca spion tengah mobil. Dan kamipun tiba kembali di kantor lebih cepat dari biasanya. Bahkan lebih cepat 30 menit!





01.03 WIB

ssssssssssshhhh..........

Semilir suara mesin pendingin ruangan kamar saya malam ini.



Memang, tidak ada lagi suara sirene yang bergaung. Tapi suasana tadi pagi hingga sore itu masih membekas di benak saya.



Ya, saya tidak meminta secara khusus untuk apa yang saya alami hari itu, tapi malah sebaliknya. Saya mendapat yang terbaik.



Setidaknya ada dua hal terbaik yang saya peroleh: pertama, tidak kena macet jalanan ibukota yang hampir tiap jam dan tiap harinya macet-pada akhirnya sangat menguras energi dan pikiran. Kedua, mendapat kejutan yang minimal mampu membuat saya dan sang supir tersenyum di tengah carut marutnya kondisi jalanan Jakarta.



Namun, benarkah seperti sang supir tadi katakan bahwa semua sudah ada yang mengatur???

hmmmmm....







-PO-

darikeremangansudutkamar

01.18 WIB
090311


*Note: 'At any rate, I am convinced that He [God] does not play dice.' (Albert Einstein)

2/6/11

I Wanna Be Like Gayus Instead of Be Like Mike (Jordan)

“..Andai ku Gayus Tambunan..

yang bisa pergi ke Bali..

Semua keingininannya..

pasti bisa terpenuhi..”
( Bona Paputungan)






Di suatu malam setiba di rumah, saya melakukan ritual yang sangat wajib: ambil remote control tivi lalu menyalakannya. Saat itu, tidak ada preferensi acara tertentu atau bahkan stasiun televisi tertentu yang mau saya tonton. Wong namanya saja ritual, ya.. semua sekenanya saja. Tidak perduli apa yang tersiar di tivi tadi, sayapun beranjak ke dapur yang tidak jauh letaknya dari tivi tersebut. Tujuan saya satu. Mengambil segelas air putih untuk melepas dahaga.

Belum juga air di gelas sepenuhnya pindah ke kerongkongan, lamat-lamat saya mendengar lantunan lagu ‘..andai ku Gayus Tambunan…’ Kontan, dengan gelas masih menempel di mulut seraya menghabiskan minuman, saya merapatkan diri kembali ke televisi untuk memastikan lantunan suara yang tadi samar saya dengar.

Ternyata, apa yang saya dengar adalah sebuah video klip lagu dari seseorang yang bernama Bona Paputungan. Di lagu itu iapun berandai-andai menjadi Gayus Tambunan. Pasalnya, “..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi..”begitu alasan Bona dalam lagu berjudul 'Andai Ku Gayus Tambunan'.

Saya terdiam untuk sesaat. Konsentrasipun coba saya tingkatkan untuk memahami adegan demi adegan yang tertayang dalam video klip. Sayangnya, belum sempat habis saya menonton video klip itu, dering telepon membuyarkan segalanya. “Men, cepetan ke lapangan. Anak-anak sudah pada datang nih..”teriak seorang kawan di ujung telepon yang mengingatkan saya bahwa malam itu sejatinya agenda saya bermain bola basket di lapangan dekat rumah. Benar! Saya memang pecinta olah raga basket. Bahkan, saya sudah jatuh cinta sejak kanak-kanak.

Syahdan, saya pun segera berbenah dan bergerak menuju lapangan basket. Tentu saja, saya tidak menyelesaikan tayangan video klip tadi. Dampaknya, mudah ditebak. Sambil berjalan kaki menuju lapangan saya masih juga memikirkan video tersebut. Saya penasaran. Namun anehnya, saya malah terbawa ke dalam sebuah memori masa kecil. Ya, memori dimana saya sangat mengidolakan sesosok yang sejalan dengan hobi saya: bermain bola basket. Siapa lagi kalau bukan Michael Jordan!

Saat itu, tepatnya tahun 90-an, saya sangat mengagumi Jordan. Betapa tidak, Jordan dengan gaya khasnya: Air Jordan, mampu ‘berjalan’ di udara sebelum kemudian menceploskan bola ke dalam keranjang. Jordan juga punya segudang ‘gaya’ memasukkan bola ke dalam keranjang. Sebut saja reverse jam, windmill jam, atau lean jam, yang pada akhirnya membawa si kepala pelontos ini menjadi juara kontes slam dunk NBA tahun ‘87 dan ‘88. Tidak hanya itu, pria keturunan afro-america itu juga turut berperan penting dalam menghantarkan tim-nya, Chicago Bulls, menjuarai 6 kali turnamen bola basket paling bergengsi di dunia: NBA, yaitu tahun ‘91-‘93 dan ‘96-’98 (dikenal juga dengan sebutan double-threepeat).

Kekaguman saya semakin bertambah manakala Michael Jordan akhirnya mendapat ganjaran setimpal dari segudang prestasinya dengan dinobatkan menjadi orang nomor 4 di dunia yang masuk dalam daftar The Wealthiest Black Americans pada tahun 2009 oleh majalah Forbes. Pasalnya, Jordan mengantungi uang sebanyak 525 juta dollar Amerika-dari bermain basket dan bintang iklan beberapa produk.

Itulah sebabnya saya ingin menjadi Michael Jordan! Apalagi setelah menjelang remaja saya ketahui dari biografi-nya ternyata Mike memperoleh kesuksesannya bukan dengan instan. Ya, dia bahkan pernah dicoret dari tim basket di sekolah-nya karena dianggap penampilannya biasa saja. Namun, Jordan bangkit dan terus berlatih tanpa kenal lelah.”Saya memejamkan mata setiap kali saya rasa letih dalam berlatih, dan membayangkan nama saya ada pada ruang penyimpanan (locker room)"ujar Jordan dalam biografinya.

Buah perjuangannya pun mulai terasa. Selain prestasi dan harta yang melimpah tadi, Jordan menjadi ikon yang fenomenal. Dia jadi kekaguman banyak orang, khusus-nya era 90-an. Dalam tulisan kata pengantar buku “How To Be Like Michael Jordan”, Helmy Yahya, sang presenter yang pernah meraih penghargaan Panasonic award, juga mengaku mengidolakan Jordan. Ratusan bahkan ribuan orang mengaku dalam situs pribadi mereka bahwa mereka ingin menjadi seperti Michael Jordan. Dan ini, segera direspon cepat oleh salah satu produk minuman energy dengan menciptakan lagu ‘I wanna be like Mike’.

‘..andai ku Gayus Tambunan..yang bisa pergi ke Bali..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi…’Lantunan salah seorang teman yang sedang melakukan pemanasan dengan menembakkan bola ke keranjang sekejab membuyarkan memori masa kecil saya tadi. ‘Nah itu dia si Jayus Tambunan sudah datang. Woi..cepetan. Mau main nih..’Teriak teman yang lain.

Usai main basket, sayapun bergegas pulang.

Gara-gara diledek dengan panggilan Jayus Tambunan, selama perjalanan pulang saya jadi berpikir tentang sosok Gayus. Kemunculan mantan pegawai kantor pajak yang mulai ramai diperbincangkan dari maret 2010 ini tidak pernah luput dari perhatian masyarakat hingga sekarang. Bahkan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, pernah mengatakan kalau harta kekayaannya bisa mencapai hampir 200 milyar rupiah.

Ya, tidak heran memang. Harta yang sedemikian banyak adalah juga ganjaran ‘prestasi’ Gayus. Sebut saja KPC, Bumi Resources, Arutmin, adalah tiga perusahaan yang merasa berhutang budi karena ‘prestasi’ Gayus dalam membantu mengurus pajak mereka. Dan untuk itu, Gayus menerima hampir 100 Milyar rupiah sebagai imbalannya.

Gayus Tambunan menjadi sosok yang fenomenal sepanjang 2010 di bumi pertiwi ini karena prestasinya yang lain. Ia berhasil mencetak rekor 68 kali keluar masuk penjara meski dalam status sedang ditahan. Lebih dahsyat lagi, ketika keluar dari penjara ia tidak hanya berplesiran ke Bali tapi juga ke luar negeri seperti Macau dan Singapore.

Dus, wajar saja banyak orang memperbincangkan ‘capaian’ Gayus tersebut. Hanya orang yang punya keahlian dan kemampuan khusus yang bisa berbuat demikian. Tidak heran, kemudian, muncul orang yang mengidolakan Gayus Tambunan. Bona Paputungan salah satumya.

Tidak hanya itu, beberapa teman saya di jejaring social Facebook juga menuliskan keinginan mereka supaya bisa seperti alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tersebut. Ujung-ujungnya mereka ingin punya uang banyak di usia yang masih relatif muda: 31 tahun.

Sangking asyiknya pikiran ini berkelana ke soal Gayus, saya jadi seperti tidak sadar kalau ternyata sudah tiba di rumah kembali. Remote tivi pun kembali saya rengguk untuk kemudian menjalankan ritual memasang televisi tanpa preferensi acara tertentu. Sambil asik memencet-mencet tombol remote untuk mencari program yang menarik, saya membatin, “Hmm..kalau dia jadi ditahan 7 tahun penjara, kira-kira akan berplesiran kemana lagi ya…atau malah..dia kapok berplesiran tapi jadi betah di dalam penjara karena ruangannya sudah didesain khusus dengan sejumlah interior seperti kasur empuk, AC, telepon, atau bahkan ruang karoke???” Well, kalau itu yang terjadi saya juga mau jadi Gayus Tambunan. Anda juga?



-PO-

darikeremanganmalam

240111

02:26 WIB

*tulisan ini juga dapat dinikmati pada situs berita Okezone:
http://news.okezone.com/read/2011/03/09/58/432916/gayus-tambunan-versus-michael-jordan

juga bisa disimak di situs Metro Siantar:
http://metrosiantar.com/OPINI/Gayus_Tambunan_Versus_Michael_Jordan

12/30/10

ADVENT 4 (2010)


"..Damai itu indah..."
Ini menjadi kisah penutup rangkaian cerita tentang Advent di tahun 2010. Apalagi kalau bukan NATAL!!!

Hampir bisa dipastikan bahwa seluruh manusia Indonesia yang melek pendidikan tahu, seonggok mahluk apa itu natal. Mulai dari definisi natal itu adalah lahir hingga natal yang dikaitkan dengan hari raya umat kristiani.

Bagi saya sendiri, natal itu damai! Kalau tidak ada kedamaian, maka tidak ada natal. Kalau tidak bisa berdamai, maka tidak bisa ber-natal.

Dan ironisnya...saya melalui beberapa ibadah natal (mulai dari malam natal hingga hari natal) di tahun 2010 ini tapi tetap, saya tidak bisa berdamai!

Selamat Natal bagi Anda yang merayakannya! Semoga bukan seremoni natal yang Anda rayakan, melainkan merayakan dan mensyukuri atas kedamaian yang sejati (termasuk memberi damai bagi orang lain). Tuhan berkati!


*dariterminalharap
00:34 WIB

12/17/10

ADVENT 3 (2010)


"Manusia merencanakan, Tuhan mengecewakan..."


Sejatinya adagium yang lazim dikenal adalah "Manusia merencanakan, Tuhan menentukan..". Namun, sekitar tiga hari lalu, seorang kawan berkelakar dengan saya dan melontarkan pelesetan dari adagium terebut sehingga menjadi apa yang dikutip pada awal tulisan ini.

Saya cukup terusik dengan pelesetan kawan tersebut bahkan hingga dini hari yang sangat amat melelahkan ini. Pasalnya, ada yang kurang sreg rasanya dengan lontaran kalimat dari kawan tadi.

Awalnya, kita saling berguarau di akhir acara pengambilan gambar untuk kepentingan sayembara saya yang berikutnya. Berbeda dengan sayembara yang pernah saya ikuti, kali ini banyak sekali kekurangan dalam proses penyelesaiannya. Mulai dari waktu (saya yang sangat padat) hingga kelengkapan tim untuk menyelesaikan keseluruhan materi sayembara yang telah saya konsepkan. Saat itu, saya sempat gamang. "ah..sudahlah..yang penting gua sudah coba yang terbaik.."

Namun, tak dinyana, sang kawan merespon sambil berkelakar, "Iya..ga apa Mas..Kan manusia merencanakan, Tuhan mengecewakan...hahahaha' Saya pun ikut terbahak-bahak. Pasalnya saat itu saya paham betul si kawan ini berusaha membesarkan hati saya dengan cara guyon. Sebab, saya adalah orang yang sangat suka dengan guyon.

Tapi entah mengapa, kalimat itu terus menerus menghantui malam-malam saya. "Apa iya, Tuhan mengecewakan???" bisik saya dalam hati.

Saat ini, seluruh materi sayembara telah rampung. Mulai dari pre-production hingga post-production berhasil saya tuntaskan meski pengorbanannya harus sampai tidak tidur dua malam berturut-turut. Tidak hanya itu, kehidupan sosial saya juga otomatis menjadi terkikis bahkan terpapas habis.

Tadi siang, saya berkirim email dengan panitia penyelenggara sayembara. Pasalnya, sedianya pengumuman pemenang diumumkan tanggal 16 Desember. Nah, karena siang tadi sudah tanggal 17 Desember saya pun mengonfirmasikannya. "Untuk pengumuman video diundur jadi tanggal 18 Desember. Kita juga telah mencantumkannya di website" tulis sang panitia di email balasan tanpa satu kata maaf pun termaktub atas pengunduran jadwal tersebut.

Gundah! Kata yang bisa mewakili perasaan saya saat ini menanti pengumuman tersebut. Saya benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Kalau di sayembara sebelumnya saya masih bisa mendapatkan 'kisi-kisi' dari teman saya yang bekerja di tempat penyelenggara sayembara itu. Nah, kali ini situasinya amat sangat berbeda: "I'm totally alone ranger!"

Situasi ini, secara kebetulan, berlangsung pada minggu advent ke-3 tahun 2010. Minggu ke-3 dimana saya dan umat Kristus lainnya diharapkan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus dalam perayaan natal ke bumi.

Mempersiapkan diri artinya juga menghilangkan segala keraguan: Tuhan itu ada, hidup, dan mau berkorban demi keselamatan umat-Nya. Nah, di tengah kegundahan ini, saya kembali diingatkan untuk benar-benar berserah menghilangkan segala keraguan yang ada. Bahwa Tuhan itu ada, hidup, dan membawa keselamatan bukanlah sesuatu yang mengecewakan. Ya, bukan suatu hal yang mengecewakan. Pun demikian jika ada pernak-pernik kehidupan yang tidak sesuai dengan yang manusia harapkan, Tuhan tetap ada, hidup dan memberi keselamatan. Artinya, saya dan manusia yang lain juga akan mendapatkan keselamatan meski itu harus melalui sesuatu yang menurut akal manusia berupa ketidaksesuaian dengan harapan.

Sekarang saatnya bagi saya dan Anda mensyukuri tidak hanya atas apa yang telah kita peroleh, namun juga atas apa yang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan?

Selamat menyambut hari advent ke-4. Tuhan berkati!!!



*dariterminalkantuk
02:37 WIB