 |
Taken from: https://www.health.harvard.edu/blog/careful-health-news-headlines-can-be-deceiving-202111122636
|
Malam ini galau berat, euy.
Gegaranya terdampak narasi kuat di media sosial yang mengatakan bahwa jumlah representasi bangsa Indonesia di institusi pendidikan tinggi luar negeri (tepatnya negara-negara adikuasa) sangat minim dibandingkan negara lain, wabilkhusus serumpun Asia: China, India, Vietnam, dkk.
S-W-G-L???
So - What - Gitu - Loh???
Memangnya kenapa kalau hanya sedikit anak bangsa yang kuliah di kampus luar negeri (ternama)?
Apakah ada data yang mendukung bahwa dengan jumlah lulusan pendidikan tinggi luar negeri akan memajukan negara Indonesia?
Saya MERAGUKAN itu!!!
Musababnya, data justru menyatakan bahwa pendidikan usia dini lah yang sejatinya memainkan peran sangat signifikan dalam membentuk dan membangun karakter seseorang (dan bangsa), yang sangat dibutuhkan untuk menjadikan sebuah negara bisa maju.
Bahasa kerennya: Early childhood education adalah kunci bagi seseorang terbentuk sebagai pribadi yang beretika, bermoral, dan bijaksana.
Sungguh, saya sangat mengamini itu dan berusaha untuk selalu menempatkan pendidikan usia dini sebagai kerangka berpikir (framework) yang sangat efektif dan efisien dalam meraih visi cemerlang di masa depan.
Kerangka berpikir ini pula yang kemudian menjadi refleksi kenapa banyak fakta menunjukkan bahwa kualitas lulusan luar negeri di Indonesia cenderung tidak memberikan dampak signifikan dalam majunya bangsa secara umum.
Malah, di satu-dua kasus, ada gelagat lulusan kampus luar negeri ketika kembali di Indonesia bersikap alias memliki attitude yang tidak bermoral.
Ya, salah satu contohnya adalah penarasi sesat pikir seperti paparan di awal tulisan ini.
Eh, omon-omon, orang yang menarasikan itu lulusan KAMPUS luar negeri atau SEKOLAH (pendidikan usia dini) luar negeri, yah? hehe..
Pantesan ajaaa... ;)
Ciao!
PO