11/15/11

Dua Rasa Festival



'Bang..Bang..kita duduk di sini aja yuk..' kata nyonya kecil-sebutan saya untuk sang pasangan guna membedakan dengan nyonya besar sebagai sebutan untuk ibunda tercinta-di beberapa menit sebelum pemutaran film dimulai.

"Ah..jangan..di belakang aja kita..' balas saya sejurus kemudian.


'Kenapa, Bang?'


'Aku mau lihat reaksi penonton itu nanti. Toh kita sudah pernah nonton film sendiri kan?!' sanggah saya sembari mengajak si nyonya kecil ke deretan bangku paling belakang.




Scene pertama pun dimulai..

Kurang dari sepuluh orang yang memenuhi arena screen A di Erasmus Huis malam tadi (15/11) tampak bergeming. Konsentrasi coba mereka arahkan ke tiap adegan. Bisa jadi mereka menduga apa yang akan terjadi di scene selanjutnya.

Ekor mata sebelah kanan saya menangkap sesuatu. Ada yang bergerak di sana. Segera kepala ini berpaling ke kanan. Tentu saja diikuti pembesaran pupil mata demi mengatasi remangnya ruang penayangan film dokumenter bertajuk The 1st SBM International GOLDEN LENS Documentary Film Festival itu. Ada bule wanita tampak senyum simpul ketika menatap layar.

Penasaran. Cari tahu sebabnya. Segera tengok ke layar. Ternyata ada adegan Dede-sang tokoh utama usia 4 tahun dalam film dokumenter Kereta Cinta (The Cleaning Service)-keluar dari kardus setelah terlebih dahulu kardus itu menggelinding beberapa putaran. Dan saya pun ikutan tersenyum. 'Mantab...!' Batin saya dalam hati mendapatkan respon sesuai dengan apa yang telah saya skenariokan.

Waktu bergulir. Entah sudah berapa scene film yang mengisahkan tentang paradoks antara cinta dan eksploitasi anak oleh orangtua ini berlalu. Saya tak tahu lagi. Namun, yang saya tahu, jumlah orang di arena festival itu semakin banyak. Dipo Siahaan, sang kawan yang belum genap sebulan tiba kembali di Jakarta pasca kuliah master-nya di Filipina dan Kostarika, jadi salah satu penonton tambahan di tengah-tengah film yang berdurasi total 29 menit 20 detik tersebut. 'Sori..sori..telat..' ucapnya sembari duduk tepat di samping kiri saya. 'Baru mulai kan?' celotehnya kemudian. 'Udeh..udeh..nikmati aje..belom lama kok' jawab saya singkat guna segera menyudahi percakapan yang bisa jadi mengganggu kenyamanan penonton lain kalau tetap diteruskan.

Ternyata Dipo punya 'pengikut'. Beberapa orang mencoba mengisi bangku yang masih kosong. Iboy-begitu biasa dia dipanggil-juga datang terlambat. Sang wartawati beritasatu.com ini menepuk punggung saya dari belakang sambil tersenyum untuk kemudian bergerak ke bangku depan.

Baru kali ini saya merasakan menonton film di kondisi yang berbeda. Ada pasangan. Juga ada teman. Bahkan orang asing pun turut serta. Tapi yang ditonton itu film karya sendiri. Hasil putar otak dan peras keringat, bahkan kuras dompet sendiri. Rasanya...hmmm..berjuta deh rasanya. Senang, tentu saja. Apalagi di akhir film sang kawan wartawati tadi menyelamati saya sambil berucap, 'Eh ada Om sutradara..selamat ya..keren loh filmnya..'

Cukup di situ? Tidak! Dipo juga seolah tak mau ketinggalan dalam memberi pujian. 'Dahsyat Pir..gak nyangka gua ternyata elu berbakat juga ya..keren Pir..' ucapnya sembari jalan keluar usai pemutaran perdana film dokumenter hasil riset selama satu tahun itu.

'Hehehe..makasih..Po..' balas saya kemudian sambil cengar-cengir. 'Omong-omong nomor sepatu lau berape?' saya mencoba berkelakar setelah mendapat pujian itu.

'...hahaha..' jawabnya.

'Eh tapi bener..keren. Semoga film lu masuk lima besar ya..' lanjutnya lagi.

'Loh..memang itu film, puji Tuhan, sudah masuk nominasi lima besar Po..' sahut saya kemudian.

'..oh gitu toh..'

'Iya..nah, nanti dari 5 besar itu baru akan dipilih best-nya..'

'Wuah..mantab itu..' sahutnya lagi.

'..iya, di festival internasional ini film kuat di cerita meski diambil pake handycam malah dihargai tinggi. Tapi entah kenapa justru di festival lokal malah gak lolos jadi finalis tuh..'jelas saya kemudian.

Sial Dipo malam tadi. Dia malah jadi sasaran curhat saya. Bahwa di malam yang sama ternyata saya sedang kecewa. Pasalnya, Kereta Cinta dinyatakan tidak lolos sebagai finalis di salah satu festival dokumenter tingkat lokal oleh panitia. Sejatinya, bukan karena hasilnya yang membuat kecut hati. Sebab, menang itu sudah biasa bagi saya. Kalah? Apalagi..Mafhum sudah!

Tapi, ini lebih ke ke-miris-an hati saya terhadap cara panitia festival itu dalam membuat perubahan tenggat waktu penerimaan akhir pendaftaran film peserta festival. Mereka terkesan tidak siap, tidak adil, dan bahkan tidak sopan terhadap para peserta festival yang sudah berjibaku sekuat tenaga memenuhi tenggat waktu yang mereka sudah tetapkan sendiri untuk kemudian dirubah dengan alasan, 'Dikarenakan ada banyaknya permintaan, maka batas akhir penerimaan karya..diundur..’ Begitu para panitia film tadi coba berdalih melalui semacam poster yang di-post-kan di dinding Facebook resmi mereka. Tidak ada maaf, apalagi rasa sesal. Karena keterangan poster itu justru mencerminkan sebaliknya, 'Semoga ini merupakan kabar gembira. Salam dokumenter!'.

Sungguh, gemerlap sebuah festival ternyata bisa beragam rasanya. Tapi paling tidak, saya beruntung. Dua kutub rasa: suka dan duka, sudah pernah saya cicipi.






-PO-

dariterminalsyukur

03:43 WIB


*Foto adalah koleksi pribadi yang diambil dengan kamera henpon tanpa lighting pada Selasa malam (15/11) di Erasmus Huis, Jakarta.

10/8/11

Bingung...


'Telah berpulang ke rumah Bapa Surgawi ayahanda dari tmn kita Mhoan dan Leo situmorang. Tuhan yg memberi kekuatan dan penghiburan buat keluarga yg ditinggal.'



Begitu isi BlackBerry Message (bbm) yang saya terima pada Jumat petang (07/10). Seorang kawan baik semasa kuliah di FISIP UI dulu yang berinisiatif mengirimkan pesan itu. Jhon Free Siallagan namanya.


Saya pun terkejut menerima bbm tadi. Bukan karena berita kematiannya yang mengagetkan, melainkan karena kebingungan terhadap kawan saya si Jhon itu. Saat itu, di benak saya terbersit rasa heran bercampur kaget terhadap apa yang dilakukan kawan yang sama-sama satu angkatan kuliah dengan saya ini, angkatan 1998. 'Lho..Jhon ini gimane..bukannye waktu meninggal Mamaknya Moan dia ketemu gua di rumah duka? Kok sekarang dia kirim berita itu lagi sih? Basi amat???'Celoteh saya dalam hati.


'Ah..apa teknologi BlackBerry ini sekarang sudah mulai terdegradasi kualitas pengiriman pesannya sehingga berita yang seharusnya saya terima sekitar 2 minggu lalu baru tiba sekarang' lanjut saya membatin.


Pusing. Bukan dalam arti harafiah. Sebab saya tidak mengerti akan apa yang terjadi di balik pesan yang saya terima itu. Jempol-jempol saya pun langsung sigap menari di atas tuts keypad henpon pintar seri Gemini 8520 ini. Dan, segera berpindah folder dari fitur bbm ke kondisi tampilan normal.


Saya acuh. Mencoba melanjutkan obrolan ringan dengan kawan-kawan jurnalis Jakarta Utara di tempat mereka biasa berkumpul: Polres Jakarta Utara.


Detik demi detik berlalu. Bahkan hampir 5 menit saya coba abaikan rasa bingung tadi. Namun, obrolan pun tak mampu membendung rasa gelisah di hati. Jempol-jempol ini kembali memencet folder bbm.


Ya Tuhaaaaaannn...


Batin saya kembali untuk yang kesekian kalinya. Ternyata, Jhon tidak salah kirim berita. Pun demikian dengan BlackBerry. Ia masih layak menyandang status terhormatnya sebagai henpon pintar. Sayalah orang yang kurang teliti dan peka terhadap informasi yang datang.


Ya, ternyata pesan itu benar. Bahwa, kali ini giliran ayahanda Mhoan dan Leo yang dipanggil Tuhan yang maha kasih setelah 2 minggu lalu ibunda kawan saya itu yang terlebih dahulu berangkat ke sorga.


Selembar fragmen percakapan saya dengan Mhoan ketika saya menyambanginya 2 minggu lalu pun membuncah di benak. 'Iya, padahal tadinya nyokap yang mau jenguk bokap di ICU ini. Eh, malah doi yang mati duluan'kenang kawan yang bernama lengkap Halomoan Situmorang itu. Ya, setelah dirawat sekian lama, ayahanda Mhoan meninggal dunia di rumah sakit Sint Carollus Jakarta Pusat. Pria berusia 70 tahun ini meninggal setelah mencoba berjuang melawan penyakit kanker hati yang ganas.


Saya sendiri belum sempat mengunjungi tempat duka kawan saya itu. Alasannya satu. Saya bingung dengan kondisi kawan yang akan saya kunjungi. 'Kenapa dalam selang waktu 2 mingguan saya harus mengunjungi Ce Es ini terus???'




-PO-

‘Bangku Pojokan’ Mal Grand Indonesia Lantai Dasar

081011

16:25 WIB





*Menurut Jhon via bbm (08/10) pukul 20:59, almarhum ayahanda Moan sudah dibawa ke Lampung untuk dikebumikan di sana.



**Kiranya Allah Bapa di sorga memberikan kedamaian dan kekuatan bagi Halomoan Situmorang dan keluarga...



***Image courtesy of http://sintamelani.blogdetik.com/files/2011/08/bingung.jpg

9/22/11

Selamat ber-CINTA! ;)

Sebuah tulisan tentang CINTA, yang sengaja saya berikan ruang di blog pribadi saya ini. Harapannya, selain tentu saja mengingatkan akan apa itu konsep CINTA (dari sudut pandang pria dewasa yang kebetulan bergelut lebih aktif di dunia perwayangan: Sujiwo Tejo), bisa menjadi inspirasi bagi kawan-kawan 'pelanggan' blog PODAKU ini dalam mengaktualisasikan CINTA itu!

Selamat ber-CINTA! ;)



Wayang Twit: #PacaranMaTuhan
(http://sujiwotejo.com/index.php?option=com_content&task=view&id=365&Itemid=40)

Ya ampuuunn!! Aku serius ngomong soal cinta sejati itu cinta ke Tuhan, pacaran sama Tuhan, malah diketawain sama tweeps, jiaaaanncuuk!

Kalau kamu sayang sama Tuhan yang Maha Asyik, mestinya kan menjadikan dirimu sebagai eksekutor kehendak Tuhan di dunia?!
Tuhan kan nggak mungkin langsung sedekah ke orang-orang, ya kalianlah sedekah duit kalau punya duit, sedekah ilmu, sedekah senyum.

Masa sih kalau sudah gitu Tuhan gak bales cintamu? Tapi gak mungkin dia belai-belai langsung rambutmu, sentuh bibirmu.

Maka Tuhan ciptakan “wakil”nya, yaitu pacarmu. Maka doalah, “Tuhan, semoga pacarku ini betul-betul orang yang kau pilihkan untukku..”

Tapi kadang kamu kebablasan! Lebih sayang ke “wakil” Tuhan itu. Padahal Tuhan Maha Pencemburu! Itulah problemnya.

Misalya, kamu gak pernah sedekah lagi, karena pacarmu di dunia keberatan, akhirnya kamu stop sedekah. Itu yang banyak terjadi.

Gak usah panas kuping ketika kubilang Tuhan Maha Pencemburu. Adakah dosa lebih besar dari cinta ke selain Tuhan (harta, uang, dll) ?

BONUS:

Masih banyak yang salah tafsir. gini, aku punya sahabat, agamanya Kristen, aku gak ada urusan sama agama orang. Bagi saya yang penting orang itu baik dan berguna buat sesama, apapun agamanya atau kepercayaannya.

Sahabat saya yang Kristen ini ngaku tak lebih cinta ke suami dan anak-anaknya daripada ke Tuhan. Ketika untuk pertama kali pisah sama anak-anaknya, karena jauh kuliah di Amrik, perempuan ini tidak takut dan tidak sedih berlarut-larut. Kenapa?

“Karena saya cinta Tuhan di atas apapun, termasuk cinta ke anak-anak, maka Tuhan akan jaga anak-anak saya di Amrik.” Jawabnya dahsyat.
END


*Terimakasih untuk Mas Sujiwo Tejo buat tulisan yang dahsyat ini..

8/29/11

Hilal

Ini bukan nama orang. Juga bukan nama makanan. Tapi ini adalah sebuah konsep dalam terminologi Islam di mana menurut website Hilal Observatorium Bosscha, Hilal adalah penampakan bulan sabit muda yang terlihat dari permukaan bumi setelah konjungsi/ijtimak. Lebih jauh lagi, banyak kegiatan penting ke-Islam-an mengambil dasar posisi bulan di langit, seperti Tahun Baru Hijriah, awal shaum Ramadhan, dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Malam ini (29/08) si Hilal menjadi begitu tenar. Bahkan jika dilakukan evaluasi tingkat popularitas melalui media monitoring, maka dia bisa dikatakan lebih populer dari sang tokoh paling fenomenal dalam 3 bulan belakangan: Nazaruddin.

Setidaknya itu yang terpantau secara jelas dari seluruh media massa malam ini di Indonesia. Hampir semua televisi nasional menyiarkan secara langsung sidang Isbat yang memperdebatkan Hilal tadi. Demikan halnya juga dengan media elektronik lain seperti radio. Tentu saja tidak ketinggalan media online atau internet yang hampir setiap menit (atau bahkan detik) meng-update hal-hal yang terkait degan Hilal tersebut. Bahkan patut diduga, esok hari, Hilal juga akan ‘menempati’ posisi terhormat media massa cetak, yaitu halaman pertama atau bahkan jadi judul utama berita hari itu.

Yang menarik, tingkat popularitas Hilal ini juga bisa disimak dari gang ke gang di beberapa kawasan tempat tinggal warga negara Indonesia. Setidaknya di wilayah tempat tinggal saya di daerah Jati Padang Baru, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mesjid Hayatul Islam yang jaraknya kurang dari 50 meter dari rumah saya menyiarkan secara langsung perdebatan sidang Isbat melalui pengeras suara di menara mesjid tersebut.

Bagi saya, fenomena ini sangat amat menarik. Manakala saya dan seluruh warga negara Indonesia ‘terkurung ‘ dalam serangan informasi perdebatan Hilal demi menentukan jatuhnya 1 Syawal 1432 H sehingga lebaran dapat dilaksanakan secara massal di republik ini.

Ya, saya memberikan perhatian khusus akan fenomena ini sebab, sepanjang saya tinggal di rumah saya ini (hampir 20 tahun) tidak pernah barang satu kalipun saya dengar mesjid di samping rumah saya me-relay sidang Isbat seperti halnya yang dilakukan beberapa televisi berita nasional. Dan dampaknya sungguh dahsyat. Di dalam rumah saya mendengar sebuah informasi dari televisi sementara dari dalam rumah juga sayup-sayup saya dengar suara TOA mesjid akan hal yang sama (soal sidang Isbat). Hanya saja ada sedikit perbedaan waktu-sekitar 1-2 menit-delay suara antara yang saya dengar di rumah dengan yang saya dengar dari luaran sana.

Lebih menarik lagi, tatkala perbedaan dalam menentukan Hilal sejatinya sudah pernah terjadi dan diduga akan tetap terjadi di kemudian hari. Namun, terpaan informasi yang sedemikian ‘hebohnya’ baru kali ini saya rasakan.

Saya sendiri tidak mau memperdebatkan soal silang pendapat Hilal tersebut. Juga demkian halnya dengan perbedaan tradisi dalam penyelenggaran lebaran. Pasalnya, selain saya tidak menguasai soal itu, juga tidak esensial bagi saya memperdebatkan sesuatu yang berhubungan dengan transendental atau menonjolkan hal-hal yg bersifat kerohanian, abstrak, dan sukar dipahami. Bagi saya, hal tersebut bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diyakini dan diimani. Dan yang utama, masalah iman, sama sekali tidak bisa diperdebatkan yang notabene landasannya adalah logika.

Saya hanya membayangkan, bagaimana jika fenomena serupa: seluruh media dan mesjid secara serentak menyiarkan informasi tertentu, diarahkan ke hal-hal yang bukan lagi transendental. Misalnya soal kepercayaan kita terhadap pemerintah.

Kira-kira, apa jadinya manakala semua media dan mesjid punya agenda setting yang sama dengan mengumumkan bahwa pemerintah kali ini sudah tidak dapat dipercaya lagi. ‘Berhubung banyak janji yang tidak bisa pemerintah penuhi selama masa kepemimpinan periode ini, maka diputuskan mulai besok seluruh rakyat Indonesia tidak lagi memiliki pemimpin. Artinya kita dapat suka-suka dalam berbuat di republik ini’ begitu suara yang terdengar dari corong pengeras suara di ujung menara mesjid-mesjid seluruh Indonesia. Satu-dua menit berikutnya, hal serupa terdengar juga dari radio-radio baik FM maupun AM di seantero Nusantara. Begitu juga dengan televisi-televisi nasional.

Tapi…kira-kira kalo di mesjid dan radio suaranya saja yang terdengar, bagaimana dengan di televisi ya? Maksudnya, gambar siapa (atau bahkan apa) yang akan muncul di televisi???

Hmmm…ini dia, baru bisa diperdebatkan. Tapi seperti lagu The Cranberries: ‘Just My Imagination’. Lagi-lagi itu hanya bayangan dari imajinasi saya. Dus, kalau mau diperdebatkan, ya sumonggo loh…Tapi, mbok yao kalau mau mendebat, tolong diingat slogan utama dalam berdebat ya: ‘Bebas Tapi Sopan…’ ;)



darisudutkamar
290811
21:34

*Image courtesy of http://ridho-avada.blogspot.com/2010/12/sejarah-lambang-bulan-bintang-islam.html

8/9/11

Selamat Tidur Indonesia... ;)


..menutup malam sambil mengingat pepatah bijak: 'Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.'
Selamat tidur Indonesia... ;)




*Image courtesy of http://coocooforclocksblog.com/wp-content/uploads/2011/05/cartoon_owl_sitting_on_a_book_T.png

7/25/11

De eL??? (Derita Lu???)

Today

.........................................................................................1:29am

dor

.........................................................................................1:29am

wholla..

.........................................................................................1:32am

tidurrrr

.........................................................................................1:32am

akan..

.........................................................................................1:33am

rencana

.........................................................................................1:33am

menulis..

.........................................................................................1:34am

bahwa

.........................................................................................1:34am

mumet..

.........................................................................................1:35am

sesungguhnya apa?

.........................................................................................1:36am

kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, dan..

.........................................................................................1:38am

siapakah yang merdeka?

.........................................................................................1:38am

ah..ternyata itu maya belaka..

.........................................................................................1:38am

maka teruslah bermimpi untuk merdeka itu









*terinspirasi dari 'colekan' tengah malam Kak Andi Aisyah Lamboge lewat jalur FB chat di tengah-tengah rencana menulis note soal pengalaman berlalu lintas tadi malam. Maksud hati ingin meneruskan amarah yang tadi sempat kurang tersalurkan kepada para pengendara mobil mewah (ada sedan Mercedes, Honda Jazz, dll), ada juga angkot, dan tentu saja pengendara motor yang dengan 'sigap' melompati separator jalur busway (antara jalan Gatot Subroto dan Cawang-Halim) untuk segera keluar dari jalur busway tadi demi menyelamatkan diri dari razia Polisi di ujung jalur itu. Para 'pelompat' yang sigap itu langsung banting setir ke kiri meski di kirinya ada kendaraan lain yang sedang melaju sekitar 50 Km/jam. Saya kaget dan marah! Klakson pun saya bunyikan tanpa henti. Pikiran saya terbang ke jalur busway itu. Bukan menempatkan diri sebagai para pengendara yang berusaha mengamankan diri dari tilangan pak Polisi. Tapi, ke pengalaman saya sehari-hari bersama puluhan penumpang bus Transjakarta yang berusaha mengamankan pijakan kakinya demi tetap kuat menopang tubuhnya sekitar satu jam-an-tentu saja setelah menunggu lebih dari setengah jam kedatangan bus transjakarta itu sebelumnya-dan juga mengamankan barang-barang bawaan mereka dari para pengutil yang mengambil kesempatan dalam kesempitan dalam bus AC seharga 3500 ribu perak itu. Namun, salah seorang pengendara motor yang ikutan 'melompat sigap' tadi malah memalingkan wajahnya ke arah saya seperti tidak terima di-klakson..Dengan klakson tetap membahana, saya membelalakkan mata dan menyorongkan wajah ke arah kaca depan. Bukan untuk mengajaknya baku hantam. Tapi mengajak dia dan para pengendara lain untuk berpikir dan merasa apa yang terjadi di dalam Transjakarta sana..



** '...kita harus mencari untung. Bahkan itu harus. Tapi, jangan membuat orang lain merugi!' (anonim)





*** gambar ilustrasi diambil dari: http://www.flickr.com/photos/38851823@N02/4943384781/











-PO-

02:45 WIB

7/4/11

..kencinglah sebelum kencing itu dikenai pajak..

Ini petang, malam menjelang. Ritualnya bagi para pekerja (kalau tak mau dikata buruh) pulang kandang. Mulai dari pekerja kantoran gedung mewah sampai ke para burik alias buruh pabrik menyerbu jalanan.


Biasanya kalau sudah begini macet jadi langganan. 'Ah,macetnye gile beneeeeerr..'celoteh kawan di wall facebooknya.

'Mana neh ahlinya..?' Timpal kawan yang lain seolah tidak lengkap rasanya hidup ini kalau tidak bersahut komentar di facebook. 'Udeeeehh boikot aja..kagak usah bayar pajak! Sekian!' Timpal kawan lain.



Komentar kawan yang terakhir bisa jadi masuk akal. Pajak itu sejatinya dibayarkan warga negara kepada pemerintah untuk kemudian dikembalikan bagi kemaslahatan alias kenikmatan warga tadi.

Tapi memang manusia tidak pernah ada puasnya. Sudah dibangunkan jalan mulai dari yang biasa, yang tanpa hambatan, bahkan sampai ke yang melayang, tetap juga tidak puas. 'Gua puas kalo ini macet diurai' kira-kira begitu saya mencoba menerka.



Saya jadi berpikir-pikir kalau begini kenyataannya. 'Meski berhitung dengan masak akan melaksakan kewajiban bayar pajak karena harus terlebih dahulu mengurangi kenikmatan.



Tapi, petang ini alur pikir tadi bisa jadi patah demi kencing. Ups..maksudnya batal demi hukum.

Terlebih ketika saya melihat seorang pemuda (lihat foto di atas) yang tak saya kenal dengan begitu vulgarnya kencing di depan saya. Bahkan, pria itu tak peduli meski bisa saja kemaluaannya-yang katanya paling privat (maaf!) terlihat orang.



Lalu, kenapa dia demikian berani? Bisa jadi dia berpikir kencing itu sejatinya limbah dari metabolisme tubuh tyang harus segera dibuang. Atau malah dia juga berpikir seperti saya..'Mending gua kencing sekarang mumpung belum dikenai pajak...'



Teng nong..teng nong..teng nong..teng nong..



'Perhatikan..jalur 3. Akan melintas KRL dari selatan menuju Jakarta-Kota..'



'Wuah kereta saya tuh...sudah dulu ya...malu kalau harus pegang-pegang BB apalagi facebook-an di kereta (kelas kambing soalnya..heuheuheu)'





*daristasiunkeretapasarminggu

18.15 WIB



-PO-

**foto: koleksi pribadi yang diambil secara candid dengan kamera henpon dari jarak satu setengah meter dari si subjek (04/07)

5/18/11

Prison and Paradise, Sebuah Film tanpa Cerita




“..Pembahasan soal stigmatisasi ini ada di luar film..”






Kalau ada orang yang mau merelakan waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan uangnya untuk menonton film, hampir bisa dipastikan itu karena ada cerita film yang jadi daya pikatnya. Memang, tidak harus selamanya begitu. Bisa saja ada alasan lain. Sang tokoh pemeran film yang sangat menarik, juga bisa jadi alibi. Atau mungkin karena keterpaksaan. Semisal, bagi pelajar atau mahasiswa yang ketiban sial harus menonton film tertentu karena sang guru atau dosen bertitah demikian, maka itu bisa jadi keharusan bagi mereka.

Namun yang menarik adalah bagaimana jika ada seorang sutradara film atau pembuat film, yang membuat film itu bukan karena ingin bercerita tapi malah ingin berwacana?

Nah, Daniel Rudi Haryanto adalah orangnya. Pria lulusan Institut Kesenian Jakarta ini mengaku membuat film Prison and Paradise untuk sebuah diskursus. ‘Kita tidak sedang bikin film cerita. Kita bikin diskursus..’ jelasnya dalam sebuah sesi diskusi di acara pemutaran film Prison and Paradise di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Ya, Rabu malam (18/5), AJI Jakarta menghelat pemutaran perdana film dokumenter Prison and Paradise. Dengan beralaskan tikar dan berpenganan ubi dan kacang rebus serta bajigur hangat, sekitar 15 orang terpaku pada layar proyektor 185 x 185 cm. Mereka tampak serius memperhatikan adegan demi adegan dari para pelaku terorisme: Imam Samudera, Amrozy, Ali Gufron. Ada juga gambar para isteri dan anak dari para pelaku bom bali tahun 2002 tersebut.

Tidak hanya itu. film yang berdurasi sekitar 90 menit tersebut juga menampilkan Noor Huda Ismail. Bahkan, hampir tiga per empat dari film adalah tuturan kisah Noor Huda. Dus, tidak heran memang. Pasalnya, film yang menampilkan pemikiran-pemikiran para teroris itu dibuat berdasarkan buku novel karangan Noor Huda Ismail yang berjudul ‘Temanku Teroris?’

Bagi sebagian orang yang mencintai film dokumenter mainstream, bisa jadi film yang dibuat selama tujuh tahun itu sangat tidak menarik dan membosankan. Sudah gambarnya didominasi berbagai adegan ‘gempa bumi’ alias potongan adegan yang tertayang bergoyang dengan tidak teratur-yang pada gilirannya mengganggu kenyamanan mata dalam menonton, lompatan dari satu sekuen adegan ke sekuen lainnya pun terasa amat kasar kalau tidak mau dikatakan jumping atau jump cut alias tidak runut secara logika gambar.

Simak saja di setiap wawancara yang tertayang. Dari seluruh wawancara-dominasi adegan film adalah wawancara-hanya wawancara dengan Ali Gufron ketika dia di dalam penjara yang relatif nyaman ditonton. Pasalnya gambar diambil dengan kamera yang menggunakan tiang penyanggah atau tripod. ‘Iya, itu ku ambil pakai tripod,’ kata Daniel, sang sutradara, di tengah-tengah pemutaran filmnya tersebut.

Namun, berbagai ketidaknyamanan tersebut masih tetap dapat apresiasi oleh para penonton yang didominasi para jurnalis dan sekelompok mahasiswa dari lembaga pers mahasiswa (LPM) universitas Bakrie. ‘Ini film yang luar biasa. Saya salut!’ komentar Budhi Yanto dari LPM universitas Bakrie setelah pemutaran film.

Cukup di situ? Tidak! Film yang digarap dengan menghabiskan waktu wawancara selama sekitar 14 jam dan menggunakan jumlah total kaset 50 buah tersebut layak diacungi jempol. Pasalnya, kemampuan Daniel, sang pembuat film, dalam meraih kepercayaan baik dari para teroris juga anak-istrinya untuk diambil gambar aktivitasnya dan diwawancarai sangat menakjubkan.

Hasilnya pun dahsyat! Kalau biasa kita melihat Amrozi cs. hanya di televisi-ketika digiring ke mobil tahanan atau dari dan ke dalam ruang sidang-tentu saja dengan teriakan khas ‘Allahuakbar’, maka yang terjadi di film pemenang Festival Film Dokumenter ini justru sebaliknya. Para pelaku bom Bali yang menewaskan 202 orang itu bertutur dengan sangat terstruktur tanpa sepatah katapun memekikkan takbir. ‘Saya juga pernah punya istri, juga pernah rasa malam pertama. Tapi tidak senikmat ketika perang,’kata Ali Gufron dari dalam sel nya di Bali.

Lain lagi kisah yang dituturkan oleh Mubarok. Ia punya justifikasi tersendiri terhadap aksi mematikannya tersebut. ‘Teroris itu menuju surga, yang lain menuju neraka,’ celotehnya dari balik jeruji besi. Sementara Amrozi dan Imam Samudera menjelaskan bahwa mereka sadar betul akan apa yang mereka lakukan, yaitu semata-mata karena jihad membela agama.’Ya..kan banyak juga orang kafir di sana yang mati. Ya kalau ada orang Islam yang juga mati..ya..biar itu jadi urusan saya dan Allah saja nanti..’kata Imam Samudera dengan berapi-api.

Sejatinya, film ini diniatkan untuk menghalau stigma yang berkembang pasca bom Bali 2002. Ya, Daniel dan timnya bermaksud mengurangi dampak buruk yang dirasakan oleh para isteri dan anak dari pelaku teror tersebut. Mulai dari celaan warga sekitar tempat tinggal mereka (hingga mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal hingga 7 kali) sampai kepada cibiran dari teman-teman sekolah Asma Azzahra, Oonita dan Azzah Rohidah-putri-putri para pelaku terpidana mati. Sayangnya, hingga adegan penutup film dokumenter ini, tidak tampak asosiasi dari stigma tersebut. Alasannya satu. ‘Kita melihat subjek kita beda..’jelas Daniel menanggapi kesan kaburnya tujuan utama penampilan stigma terhadap korban pelaku pengeboman.



dariterminalkantuk

-PO-
05:34 WIB
*Image courtesy of www.MediaIndependen.com

4/7/11

‘…I am appealing the verdict…’


What do you think about the word 'appeal'? Do you think of it as an attractiveness, which is related to the emotion? Or perhaps you would relate it to a terminology in law by which "to appeal" means to ask for higher or lower verdict from the higher court, after a decision has been delivered by the lower court? Or probably you have different understanding of the word?

Indeed, appeal can have so many meanings. However, I personally see the word "appeal" as something related to a love story.

And here is how the love story goes…

Yesterday, I had lunch with a friend from the college days near his office on Jalan Dharmawangsa, South Jakarta. It happened accidentally as my friend and I did not plan to have that lunch before.

However, it went like the usual. We asked each other our life stories. Starting from the classic ‘how are you doing’ up to the plan of having a permanent couple. Indeed, we are both still single and at the age considered to be ‘obligated’ to marry a woman.

‘So, how’s your plan? When will you marry?" My friend asked me when we were having the same meal: Soto Ayam - it's a kind of spicy chicken soup popular in Indonesia - at Warung Soto Ayam, a traditional Indonesian-style food stall.

‘…holy macaroni...marriage? c’mon bro..how could I dare to step over you, to marry while your self has not married yet..’ I replied jokingly. Indeed, he - let’s call my friend as ‘the beetle’ - is actually my senior at college. He is two years older than me.

‘hahaaha..you’re always joking with me, buddy!’ he replied.

‘..hahaha..’I replied. ‘c’mon pal, you seem more ready than me. By the way, you already have a candidate, haven’t you?’

‘That’s the problem Pir..! I am appealing the verdict!!!’


‘What do you mean by that?’ I tried to figure out.

‘Yes, I don’t wanna to be in this situation. I want to change it!’ he tried to explain.

This gentleman is currently having a closed-relationship with a woman that he actually likes. However, it is not exactly going as he plans.

My friend told me that he once went to his girlfriend’s house in Malang, East Java. He did not just meet his girlfriend, but also her girlfriend’s father. Then, everything seemed like the usual date. Nothing special happened, indeed! However, at the end of the visit, his girlfriend’s father gave him a gift. ‘Here, please bring these apples when you go back home. And also please give this to your parents. Also, please send my best regards to them..’ his girlfriend’s father told my friend while giving him a bucket full of apples.

‘I have no problem at all with that until he called me and asked whether or not I already gave the apples to my parents by the time I arrived home,’ he explained.


‘..c’mon bro…that’s pretty common I guess..he is your girlfriend’s father, right?! So what’s the big deal?’ I replied.

‘The problem is..I just met my girlfriend’s father once. Even more, it was also the first meeting for me and my girlfriend..’ He replied.

‘So, are you saying that you just knew them there and you fell awkward with their treatment?’ I tried to figure out.


“Indeed, pal!’ he answered. ‘It seemed quite ridiculous when my parents suggested me to propose her as soon as possible.’

‘Why ridiculous, dude?’ I answered. ‘That’s good, right? As you guys are already in love one to each other..’

‘That’s why I am appealing the verdict, because both of us haven’t expressed our love explicitly!’ he replied as he finished the soto ayam.


-PO-
080411
04:09 AM
*Image courtesy of http://bmc277.blogspot.com/

3/8/11

'Kayak udah ada yang ngatur aja...'


08.35 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Begitu kira-kira raungan sirena mobil pengawal yang terdengar dari kejauhan..



Dan...

teeeett...teeettt..teett....ngiung..ngiung..ngiung...

Raungan itu semakin menggelegar dengan diiringi sahutan klakson yang tak henti-henti sambung menyambung.



Hanya butuh dua menit-an saja sang pilot-begitu saya biasa menyapa penyupir mobil yang saya tumpangi-mengambil keputusan untuk tidak langsung menepi dan mempersilakan rombongan mobil bersirene tadi melengos, melainkan menempel ketat iring-iringan dua mobil tadi (satu mobil Mercedes-Benz S Class warna abu-abu metalik dengan no pol B 36 dan satu mobill Toyota Landcruiser hitam berplat polisi: B1499RFS).



'Wuah..ini mobil pada mau kemana ya??? kayaknya sih ke istana nih..'kata sang pilot di tengah konsentrasinya mengendarai mobil operasional kantor untuk tetap berada tepat di belakang rombongan tadi.



'..boleh..boleh..hajar aja...'sahut saya.



'..Iya nih..kayaknya ke istana deh..'



"...semoga aje.."timpal saya sekenanya sebab saya tidak terlalu berharap agar bisa tiba di tujuan, yaitu istana negara dengan tergesa-gesa.



Ternyata benar! Iring-iringan memang searah dengan kami. Hanya saja, mereka masuk lewat pintu depan istana dan kami masih harus menempuh beberapa ratus meter lagi untuk masuk istana. Maklum, pintu masuk bagi yang bukan pejabat negara hanya boleh lewat Jalan Harmoni.



15.45 WIB

Ngiung...ngiuung...ngiung...

Lagi! Terdengar raungan sirena mobil pengawal dari kejauhan..



'..wuahh..ada mobil voorijder lagi neh...asiiikkkk...kita ikutin lagi yak..'celoteh sang pilot.



'...hehehe..boleh..boleh..'tanggap saya sambil tertawa renyah.



'...eh..itukan mobil yang tadi pagi lagi..' timpal sang Pilot kemudian



'..masak sih??'



'..iya..gua ingat banget mobilnya tuh mersi..plat nomornya juga sama tuh...36..' argumen si pilot mencoba meyakinkan.



'..oh bagus itu...'



'...hehee..ini rejeki lu tuh...kayak udah ada yang ngatur aja..' seringai si pilot sambil melirik saya dari kaca spion tengah mobil. Dan kamipun tiba kembali di kantor lebih cepat dari biasanya. Bahkan lebih cepat 30 menit!





01.03 WIB

ssssssssssshhhh..........

Semilir suara mesin pendingin ruangan kamar saya malam ini.



Memang, tidak ada lagi suara sirene yang bergaung. Tapi suasana tadi pagi hingga sore itu masih membekas di benak saya.



Ya, saya tidak meminta secara khusus untuk apa yang saya alami hari itu, tapi malah sebaliknya. Saya mendapat yang terbaik.



Setidaknya ada dua hal terbaik yang saya peroleh: pertama, tidak kena macet jalanan ibukota yang hampir tiap jam dan tiap harinya macet-pada akhirnya sangat menguras energi dan pikiran. Kedua, mendapat kejutan yang minimal mampu membuat saya dan sang supir tersenyum di tengah carut marutnya kondisi jalanan Jakarta.



Namun, benarkah seperti sang supir tadi katakan bahwa semua sudah ada yang mengatur???

hmmmmm....







-PO-

darikeremangansudutkamar

01.18 WIB
090311


*Note: 'At any rate, I am convinced that He [God] does not play dice.' (Albert Einstein)

2/6/11

I Wanna Be Like Gayus Instead of Be Like Mike (Jordan)

“..Andai ku Gayus Tambunan..

yang bisa pergi ke Bali..

Semua keingininannya..

pasti bisa terpenuhi..”
( Bona Paputungan)






Di suatu malam setiba di rumah, saya melakukan ritual yang sangat wajib: ambil remote control tivi lalu menyalakannya. Saat itu, tidak ada preferensi acara tertentu atau bahkan stasiun televisi tertentu yang mau saya tonton. Wong namanya saja ritual, ya.. semua sekenanya saja. Tidak perduli apa yang tersiar di tivi tadi, sayapun beranjak ke dapur yang tidak jauh letaknya dari tivi tersebut. Tujuan saya satu. Mengambil segelas air putih untuk melepas dahaga.

Belum juga air di gelas sepenuhnya pindah ke kerongkongan, lamat-lamat saya mendengar lantunan lagu ‘..andai ku Gayus Tambunan…’ Kontan, dengan gelas masih menempel di mulut seraya menghabiskan minuman, saya merapatkan diri kembali ke televisi untuk memastikan lantunan suara yang tadi samar saya dengar.

Ternyata, apa yang saya dengar adalah sebuah video klip lagu dari seseorang yang bernama Bona Paputungan. Di lagu itu iapun berandai-andai menjadi Gayus Tambunan. Pasalnya, “..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi..”begitu alasan Bona dalam lagu berjudul 'Andai Ku Gayus Tambunan'.

Saya terdiam untuk sesaat. Konsentrasipun coba saya tingkatkan untuk memahami adegan demi adegan yang tertayang dalam video klip. Sayangnya, belum sempat habis saya menonton video klip itu, dering telepon membuyarkan segalanya. “Men, cepetan ke lapangan. Anak-anak sudah pada datang nih..”teriak seorang kawan di ujung telepon yang mengingatkan saya bahwa malam itu sejatinya agenda saya bermain bola basket di lapangan dekat rumah. Benar! Saya memang pecinta olah raga basket. Bahkan, saya sudah jatuh cinta sejak kanak-kanak.

Syahdan, saya pun segera berbenah dan bergerak menuju lapangan basket. Tentu saja, saya tidak menyelesaikan tayangan video klip tadi. Dampaknya, mudah ditebak. Sambil berjalan kaki menuju lapangan saya masih juga memikirkan video tersebut. Saya penasaran. Namun anehnya, saya malah terbawa ke dalam sebuah memori masa kecil. Ya, memori dimana saya sangat mengidolakan sesosok yang sejalan dengan hobi saya: bermain bola basket. Siapa lagi kalau bukan Michael Jordan!

Saat itu, tepatnya tahun 90-an, saya sangat mengagumi Jordan. Betapa tidak, Jordan dengan gaya khasnya: Air Jordan, mampu ‘berjalan’ di udara sebelum kemudian menceploskan bola ke dalam keranjang. Jordan juga punya segudang ‘gaya’ memasukkan bola ke dalam keranjang. Sebut saja reverse jam, windmill jam, atau lean jam, yang pada akhirnya membawa si kepala pelontos ini menjadi juara kontes slam dunk NBA tahun ‘87 dan ‘88. Tidak hanya itu, pria keturunan afro-america itu juga turut berperan penting dalam menghantarkan tim-nya, Chicago Bulls, menjuarai 6 kali turnamen bola basket paling bergengsi di dunia: NBA, yaitu tahun ‘91-‘93 dan ‘96-’98 (dikenal juga dengan sebutan double-threepeat).

Kekaguman saya semakin bertambah manakala Michael Jordan akhirnya mendapat ganjaran setimpal dari segudang prestasinya dengan dinobatkan menjadi orang nomor 4 di dunia yang masuk dalam daftar The Wealthiest Black Americans pada tahun 2009 oleh majalah Forbes. Pasalnya, Jordan mengantungi uang sebanyak 525 juta dollar Amerika-dari bermain basket dan bintang iklan beberapa produk.

Itulah sebabnya saya ingin menjadi Michael Jordan! Apalagi setelah menjelang remaja saya ketahui dari biografi-nya ternyata Mike memperoleh kesuksesannya bukan dengan instan. Ya, dia bahkan pernah dicoret dari tim basket di sekolah-nya karena dianggap penampilannya biasa saja. Namun, Jordan bangkit dan terus berlatih tanpa kenal lelah.”Saya memejamkan mata setiap kali saya rasa letih dalam berlatih, dan membayangkan nama saya ada pada ruang penyimpanan (locker room)"ujar Jordan dalam biografinya.

Buah perjuangannya pun mulai terasa. Selain prestasi dan harta yang melimpah tadi, Jordan menjadi ikon yang fenomenal. Dia jadi kekaguman banyak orang, khusus-nya era 90-an. Dalam tulisan kata pengantar buku “How To Be Like Michael Jordan”, Helmy Yahya, sang presenter yang pernah meraih penghargaan Panasonic award, juga mengaku mengidolakan Jordan. Ratusan bahkan ribuan orang mengaku dalam situs pribadi mereka bahwa mereka ingin menjadi seperti Michael Jordan. Dan ini, segera direspon cepat oleh salah satu produk minuman energy dengan menciptakan lagu ‘I wanna be like Mike’.

‘..andai ku Gayus Tambunan..yang bisa pergi ke Bali..semua keinginannya pasti bisa terpenuhi…’Lantunan salah seorang teman yang sedang melakukan pemanasan dengan menembakkan bola ke keranjang sekejab membuyarkan memori masa kecil saya tadi. ‘Nah itu dia si Jayus Tambunan sudah datang. Woi..cepetan. Mau main nih..’Teriak teman yang lain.

Usai main basket, sayapun bergegas pulang.

Gara-gara diledek dengan panggilan Jayus Tambunan, selama perjalanan pulang saya jadi berpikir tentang sosok Gayus. Kemunculan mantan pegawai kantor pajak yang mulai ramai diperbincangkan dari maret 2010 ini tidak pernah luput dari perhatian masyarakat hingga sekarang. Bahkan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, pernah mengatakan kalau harta kekayaannya bisa mencapai hampir 200 milyar rupiah.

Ya, tidak heran memang. Harta yang sedemikian banyak adalah juga ganjaran ‘prestasi’ Gayus. Sebut saja KPC, Bumi Resources, Arutmin, adalah tiga perusahaan yang merasa berhutang budi karena ‘prestasi’ Gayus dalam membantu mengurus pajak mereka. Dan untuk itu, Gayus menerima hampir 100 Milyar rupiah sebagai imbalannya.

Gayus Tambunan menjadi sosok yang fenomenal sepanjang 2010 di bumi pertiwi ini karena prestasinya yang lain. Ia berhasil mencetak rekor 68 kali keluar masuk penjara meski dalam status sedang ditahan. Lebih dahsyat lagi, ketika keluar dari penjara ia tidak hanya berplesiran ke Bali tapi juga ke luar negeri seperti Macau dan Singapore.

Dus, wajar saja banyak orang memperbincangkan ‘capaian’ Gayus tersebut. Hanya orang yang punya keahlian dan kemampuan khusus yang bisa berbuat demikian. Tidak heran, kemudian, muncul orang yang mengidolakan Gayus Tambunan. Bona Paputungan salah satumya.

Tidak hanya itu, beberapa teman saya di jejaring social Facebook juga menuliskan keinginan mereka supaya bisa seperti alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tersebut. Ujung-ujungnya mereka ingin punya uang banyak di usia yang masih relatif muda: 31 tahun.

Sangking asyiknya pikiran ini berkelana ke soal Gayus, saya jadi seperti tidak sadar kalau ternyata sudah tiba di rumah kembali. Remote tivi pun kembali saya rengguk untuk kemudian menjalankan ritual memasang televisi tanpa preferensi acara tertentu. Sambil asik memencet-mencet tombol remote untuk mencari program yang menarik, saya membatin, “Hmm..kalau dia jadi ditahan 7 tahun penjara, kira-kira akan berplesiran kemana lagi ya…atau malah..dia kapok berplesiran tapi jadi betah di dalam penjara karena ruangannya sudah didesain khusus dengan sejumlah interior seperti kasur empuk, AC, telepon, atau bahkan ruang karoke???” Well, kalau itu yang terjadi saya juga mau jadi Gayus Tambunan. Anda juga?



-PO-

darikeremanganmalam

240111

02:26 WIB

*tulisan ini juga dapat dinikmati pada situs berita Okezone:
http://news.okezone.com/read/2011/03/09/58/432916/gayus-tambunan-versus-michael-jordan

juga bisa disimak di situs Metro Siantar:
http://metrosiantar.com/OPINI/Gayus_Tambunan_Versus_Michael_Jordan